Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 119 - Isyana



...***...


Rei diam terpaku ditempatnya begitu tubuhnya di dekap oleh wanita paruh baya yang menjadi ibunya itu.


Wanita itu menangis bahagia, memeluk erat tubuhnya hingga membuatnya bahkan nyaris kesulitan itu bernapas.


Lagi. Rei merasakan hal yang belum ia rasakan sebelumnya. Begitu tubuhnya bersentuhan dengan Isyana yang menjadi ibunya, ia merasakan sengatan listrik kecil. Selain itu, entah kenapa hatinya terasa lebih sakit dibanding sebelumnya ketika ia pertama kali melihat rumahnya.


Ada apa denganku sebenarnya? Kenapa hatiku begitu sakit? Bahkan lebih menyakitkan dari sebelumnya, batin Rei yang diam tanpa bersuara.


Isyana melepaskan pelukannya, ia memegangi kedua pundak Rei dan menatapnya sekali lagi. Kali ini lebih lekat dari sebelumnya. Air mata masih menggenang membasahi kedua pipinya. Sulit dipercaya putranya yang hilang satu tahun lalu itu akhirnya kembali dalam dekapannya.


Rei beradu tatap. Sekali lagi hatinya seakan tersayat benda tajam, kali ini lebih tepat diantara ulu hatinya. Rasanya benar-benar menyakitkan, apalagi begitu pandangan mata mereka bertemu.


"Mama benar-benar tidak percaya akhirnya kau kembali Rei…" lirihnya.


Rei masih bungkam. Bukan hanya karena rasa bingung mengenai rasa sakit yang ia rasakan pada hatinya, tapi ia juga bingung harus berbuat apa. Dirinya saja bahkan tidak dapat mengingat apa-apa meski sudah bertemu dengan mereka.


"Rei… kenapa kau diam saja, sayang? Apa kau tidak rindu dengan mama?" Air mukanya berubah bingung saat melihat tidak ada reaksi apa-apa dari Rei.


"Ng… Tan, bisa kita bicara sebentar?" Elvina berucap cepat. Isyana menoleh ke arah Elvina yang kini bangun dari duduknya.



Elvina bergegas menarik tangan Isyana dan membawanya menuju ruangan lain yang berbicara empat mata dengannya.


Elvina menghela napas sejenak sebelum menjelaskan apa yang terjadi. Mereka kini berada di ruang tengah meninggalkan Rei dan William di ruang tamu.


"Jujur saja ceritanya cukup rumit, Tan… tapi Elvina akan jelaskan semuanya dari awal pada Tante," tutur Elvina. Ia lantas menjelaskan semuanya pada Isyana mulai dari bagaimana caranya Elvina bisa bertemu dengan Rei, apa yang terjadi pada Rei mulai dari dugaannya amnesia, sampai rencanannya yang berusaha membantu Rei mengingat masa lalunya.


"Aku harap Tante jangan mengungkit-ungkit apa yang terjadi dulu. Bisa, 'kan? Elvina hanya tidak ingin Rei sampai pergi lagi," tutur Elvina pelan mengakhiri penjelasannya.


"Baiklah, Tante mengerti. Tante janji tidak akan pernah mengungkit-ungkit apa yang terjadi waktu itu, lagipula Tante juga tidak ingin Rei sampai hilang lagi," ujar Isyana.


"Terima kasih, Tan."


"Dan untuk amnesianya, mungkin Tante akan membawa Rei ke rumah sakit untuk periksa agar kita tahu seberapa parah amnesia yang dialaminya."


"Elvina setuju dengan ucapan Tante." Elvina tersenyum simpul. "Oh ya, kalau begitu Elvina dan William pamit. Kami harus pergi sebelum terlambat."


"Baiklah, kalau begitu."


Isyana dan Elvina beranjak dari ruang tengah menuju ruang tamu. Di sana, Rei dan William terduduk sambil menatap setiap foto yang ada di dinding. Diantara semua bingkai foto yang ada di sana, hanya ada beberapa bingkai saja yang berisi gambar dirinya.


Hanya ada tiga foto, tidak banyak. Dua diantaranya diambil ketika ia di taman kanak-kanak mengenakan pakaian wisuda.


...***...