
...***...
Cato menghentikan langkah kakinya begitu dia mendapati tidak ada siapa-siapa di kursi tempat tadi dia meninggalkan Lusia. Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mencari anak perempuan berusia tiga tahun itu. "Lusia!"
"Lusia, kau dimana?" Cato mulai panik. Lelaki itu mulai bergerak mencari anak perempuan yang mendadak hilang dari kursinya itu. Cato juga sempat menghampiri satu persatu pengunjung di sana dan menanyakan Lusia. Dia pikir, mungkin saja di antara mereka ada yang melihat Lusia. Tapi sialnya tidak ada satupun di antara orang-orang yang berlalu-lalang di sana melihat anak perempuan yang bersamanya.
"Kemana dia? Kenapa dia tidak ada dimana-mana?" Cato sungguh cemas di buatnya. Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Cato berhenti mencari. Dia terus berlari dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Berharap bisa menemukan gadis itu disekitaran taman.
...*...
Waktu berlalu, dan sayangnya Cato sama sekali tidak bisa menemukan Lusia dimana pun. Dia nyaris menyerah mencari anak itu, terlebih tidak ada satupun jejak yang bisa dia gunakan untuk menemukannya. Cato pun sudah menanyakan ke lebih dari puluhan orang, berharap ada satupun di antara mereka yang melihat Lusia barang sebentar pun.
Hari sudah hampir senja, dan Cato mulai lelah karena terus berjalan ke sana kemari tanpa arah yang jelas. Pencarian Lusia sungguh tidak membuahkan hasil apa-apa, ujung-ujungnya Cato hanya duduk lemas dengan wajah lelah.
Lelaki itu mengambil duduk di salah satu bangku yang dilihatnya. Cato tadinya berniat untuk menghubungi polisi dan melaporkan kejadian ini. Namun dia bersikeras berusaha mencari lebih dulu sebelum benar-benar melaporkan kejadian ini pada polisi.
Layar panggilan telepon muncul, dan nama Dorothy istrinya tertera di sana. Cato terdiam sejenak. Apa yang harus aku katakan padanya?
Setelah beberapa saat diam, Cato akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dari istrinya itu. Ia menekan tombol yang ada, dan sambungan telepon mereka lantas terhubung satu sama lain.
"Halo darling, kau dimana? Apakah kau dan Lusia sedang di luar? Tadi tetangga kita menelepon mengabari kalau Joe dan Derek diam di rumah dengan masih membawa tas. Dia pikir Joe dan Derek baru pulang dan tidak ada siapa-siapa di rumah, maka dia meneleponku dan memintaku untuk datang."
"Ya..., aku memang sedang di luar."
"Kau sedang apa? Apakah ada urusan mendesak sampai tidak bisa pulang lebih cepat? Kasihan kan Joe dan Derek sampai menunggu, dan lagi Lusia. Kau membawanya denganmu? Seharusnya kau bawa dia pulang, ini sudah saatnya dia tidur siang." Dorothy berucap dengan lembut. Ciri khas wanita itu yang memang selalu berusaha tetap tenang dalam segala situasi. Termasuk dalam situasi seperti ini sekalipun. Dorothy berusaha untuk mengerti akan situasi suaminya.
Cato termangu tanpa kata. Ia menelan salivanya susah payah. Dia berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengatakan masalah yang sekarang menimpanya pada Dorothy.
"Sayang..., Lusia hilang." Akhirnya kalimat itu berhasil terucap keluar dari mulutnya.
...***...