Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 391 - Bule tak waras



...***...


"Elvina!" Linda berteriak heboh memasuki ruang kerja sahabatnya.


Elvina tersentak akibat kedatangannya yang tiba-tiba.


"Astaga, kau membuatku terkejut saja! Kenapa kau heboh sekali?" ujar Elvina.


"Kau harus lihat ini! Ayo!" Linda menarik tangan Elvina dan memaksanya untuk berdiri.


"Ada apa denganmu ini? Kau mau membawaku kemana? Sebentar lagi jam kerja kita mulai, lebih baik kita tetap di ruangan masing-masing."


"Itu tidak penting untuk sekarang! Kau harus tahu kalau ruangan si tukang perintah kesayanganmu itu di datangi oleh bule tak waras yang tiba-tiba mengobrak-abrik seisi kantor."


"Tunggu, apa?" Elvina tidak mengerti dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut sahabatnya.


"Nanti saja aku jelaskan lebih detail! Ayo pergi dan kita lihat?!" Linda menarik tangannya secara paksa hingga Elvina terseret di belakangnya. Mereka melangkah menyusuri koridor hingga tiba di lift.



...*...


Ting!


Pintu lift terbuka tepat di lantai dimana ruangannya berada.


Leon yang baru saja di telpon oleh sekretarisnya karena ada kejadian mendesak yang tak terduga, cepat-cepat datang ke kantor dengan di temani Irfan.


Tiba di koridor, ia melihat seluruh orang-orang dari divisi keamanannya dalam keadaan menggelepar di lantai dengan wajah yang babak belur.


"Astaga, sepertinya ada masalah besar," gumam Irfan yang terus berjalan di belakang Leon hingga mereka tiba di ruangannya.


Orang-orang yang berkumpul di sana seketika menepi saat Leon tiba.


Leon menghampiri sekretarisnya.


"Di dalam pak, dua sudah membuat kekacauan di kantor. Semua keamanan kita bahkan bisa dengan mudah dilawannya."


"Siapa pria yang berani menyerang tempatku dengan terang-terangan seperti ini?" Leon mengepalkan tangan.


"Bukan pria pak, tapi wanita."


"Apa?!" Leon tak percaya dengan yang di dengarnya.


"Maksudmu?"


"Ya, yang membuat kekacauan di sini adalah seorang wanita berambut pirang. Dia berbicara dengan bahasa Inggris, wajahnya cantik, tinggi, putih dan sangat kuat. Bahkan dengan mudahnya dia menjatuhkan tim keamanan di kantor kita."


"Seorang wanita?" Irfan sama terkejutnya dengan Leon.


"Lalu dia bilang kalau dia ingin bertemu dengan bapak, tapi setelah ditanyai maksud kedatangannya, dia sama sekali tidak menjelaskan apa-apa dan terus mendesak ingin bertemu dengan bapak. Lalu dia memutuskan untuk menunggu di ruangan anda. Sekarang dia sudah mulai sedikit tenang dan sedang duduk di ruangan bapak sembari menikmati secangkir teh," jelasnya lagi.


"Siapa sebenarnya dia? Biar aku periksa." Leon melangkah masuk. Irfan sempat menghentikannya untuk masuk, tapi Leon meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Tiba di dalam, fokus Lucy beralih pada Leon yang baru saja tiba.


Dengan santainya ia menyesap teh miliknya dengan posisi bertumpang kaki. Tak lama, ia menaruh cangkirnya ke atas meja. Melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Leon dari atas sampai bawah.


"Siapa kau? Mengapa kau membuat kekacauan di kantorku?" tanya Leon dalam bahasa Inggris dengan penuh amarah.


Lucy mengeluarkan smirk-nya, beradu tatap dengan Leon.


"Berani sekali kau membuat kekacauan di seisi kantorku dan membuat semua penjaga terluka. Kau harus kubawa ke kantor polisi," teriaknya.


Lucy beranjak dari tempatnya. Ia menghampiri Leon yang berdiri di sana dan berhenti tepat di hadapan Leon.


"Long time no see, Leon." Lucy menepuk pundak Leon, pelan.


...***...