Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 283 - Pertemuan tahunan



...***...


Hari Minggu. Semua orang yang ada di dalam rumah tengah sibuk berbincang, bercengkrama bersama dalam satu ruangan yang sama.


Pertemuan keluarga besar yang di adakan tahunan di setiap hari peringatan kematian kakek pertama Lusia memang menjadi hal rutin yang keluarganya lakukan.


Di saat inilah, semua keluarganya berkumpul. Keluarga Lusia adalah sebuah keluarga besar yang terdiri dari keluarga mendiang kakek pertamanya yang tak lain adalah kakak dari neneknya.


Lalu keluarga neneknya yang tak lain adalah keluarganya, serta paman dan bibinya atau adik dan kakak dari orang tuanya.


Dan yang terakhir merupakan kakek ketiganya. Tidak banyak anggota keluarga kakek ketiga atau adik neneknya itu, karena lelaki itu telah bercerai dengan istrinya beberapa tahun lalu dan memutuskan untuk tinggal terpisah dengan istrinya.


Lusia seharusnya memiliki dua paman dari kakek ketiganya. Namun ia tidak pernah bertemu dengan mereka karena keluarga kakek ketiganya itu terlalu misterius dan mereka tak pernah bertemu sama sekali. Termasuk dalam acara perkumpulan seperti ini.


Yang Lusia tahu hanyalah kalau kakek ketiganya memiliki dua orang anak laki-laki yang usianya berbeda sekitar sembilan tahun dengannya, dan keduanya ikut tinggal terpisah dengan kakek ketiganya.



Sementara yang lain berkumpul bersama di ruang tengah, beda halnya dengan Lusia yang kini terduduk di ruang lain.


Lusia duduk di sebuah kursi yang terletak di dekat jendela yang menghadap langsung ke arah taman di samping rumah.


Hujan mengguyur bumi sore itu, membuat suasana terasa lebih ramai dengan adanya derai hujan yang meredam keributan di ruang tengah.


Lusia menatap keluar jendela. Pikirannya terus di penuhi oleh Rei yang tak kunjung dapat ia hubungi sampai saat ini. Ia ingin segera kembali ke Jakarta agar bisa bertemu dengan lelaki yang menjadi kekasihnya itu.


Lusia terus mengecek ruang obrolannya dengan Rei di aplikasi perpesanannya. Rei sama sekali tak membaca pesan yang ia kirimkan sejak Jumat terakhir. Saat Rei mengantarkannya pulang, dan saat itu juga adalah kali terakhirnya Rei dapat ia hubungi. Setelahnya, Lusia tak bisa menghubungi sama sekali.


Claire yang melihat Lusia, cucu kesayangannya tengah termenung sendiri di dekat jendela, lalu menghampirinya.


"Lusia?" Claire memanggilnya. Fokus gadis itu lantas beralih pada kedatangan wanita yang menjadi neneknya itu.


Claire bukanlah nenek-nenek pada umumnya. Wanita itu walaupun sudah tua tapi memiliki tubuh ramping yang sehat. Ia tinggi semampai dengan wajah yang mulai menampakkan kerutan menandakan usianya tak lagi muda.


Dalam usia tuanya, ia masih bisa bekerja, dan bahkan merupakan seolah pekerja keras yang tak kenal lelah mencari nafkah.


"Nenek." Lusia menatap Claire yang kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Kenapa kau di sini? Apakah kau tidak ingin bergabung dengan Justin atau Aura?"


"Tidak apa-apa, aku hanya malas bergabung dengan mereka, karena mereka selalu bertengkar, dan aku sedang malas untuk mendamaikan mereka."


"Begitu rupanya. Lalu sedang apa kau termenung di sini? Seperti orang yang sedang menunggu sesuatu saja. Apakah ada yang kau tunggu?" tanya Claire. Lusia terkekeh pelan, ia cukup terkejut dengan neneknya yang selalu bisa menebak segala tentang dirinya.


"Nenek selalu tahu saja," ujar Lusia pelan.


...***...