Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 246 - Tidak ada protes!



...***...


"Tapi kenapa bisa?"


"Aku juga tidak ingat apa-apa," sahut Lusia setelah Gloria dan Heru menatap ke arahnya dengan tatapan bingung.



...*...


Elvina diam memandangi bagian tubuhnya yang berbalutkan perban setelah ia memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit bersama Leon.


Pikiran Elvina melayang. Ia mendadak teringat akan kejadian saat dirinya digendong secara paksa oleh Leon dan di bawa menuju ruang sakit.


Jantungnya berdebar tanpa sebab, dan wajahnya merona ketika pikirannya tiba-tiba stuck pada sosok Leon.


"Kau terlalu banyak berpikir!"


Kalimat Leon itu mendadak terngiang di benaknya. Baritonnya, aksen yang khas, dan nada bicara yang senantiasa jelas nan tegas, semuanya membuat Elvina merasa seakan ia dapat mendengar secara langsung Leon berbicara padanya.


Entah sejak kapan, yang pasti akhir-akhir ini pikirannya selalu di penuhi dengan Leon.


Namun Elvina tak sadar dengan perasaannya. Ia hanya mengartikan bahwa apa yang dialaminya hanyalah karena sikap Leon yang mendadak berubah dan membuatnya kebingungan.


Ternyata… setelah aku pikir-pikir, dia memang tampan. Tapi kadang sifatnya tak menentu. Kadang baik, lalu kadang menyebalkan, setelah itu… dia bisa juga bersikap lembut dan memperlakukanku dengan penuh perhatian. Elvina tersenyum simpul, ia malu sendiri memikirkan Leon.


"Aku mau kau menjadi milikku. Maukah kau menjadi kekasihku? Tolong pertimbangkan lagi ucapanku."


Lagi. Kalimat Leon entah kenapa secara tiba-tiba bermunculan menuju permukaan memori otaknya.


"Pertimbangkan lagi ucapannya…" Elvina bergumam, ia menunduk. Kini, dirinya mulai sibuk memikirkan ucapan Leon yang tadi baru saja menyatakan perasaannya.


Apa yang harus aku lakukan?


...*...


"Tidak apa-apa kalau kau memang tidak bisa. Mungkin aku akan mencari taksi saja untuk mengantarkan aku pulang."


"Tidak! Biar kau diantara Rei pulang saja! Aku tidak akan tenang kalau kau pulang sendiri."


"Rei?" Lusia membulatkan mata menanggapi usulannya.


"Ya. Aku tidak ingin terjadi kenapa-kenapa denganmu di jalan. Jadi aku akan meminta Rei untuk mengantarkanmu pulang, oke?"


"Aku tidak mau. Bukankah kau sudah tahu kalau aku…"


"Merasa tidak nyaman kalau harus dekat dengannya. Basi!" Potong Gloria cepat. Bibir gadis itu bergerak dengan gaya tak biasa saat mengucapkan kalimat tersebut.


Gloria jengkel dengan alasan yang di berikan Lusia saat ia terus berusaha mendekatkannya dengan Rei lagi.


Gloria sebenarnya sedang berjuang untuk membantu Lusia agar bisa benar-benar jadian dengan Rei. Gadis itu hanya ingin membuat sahabatnya bahagia.


"Pokoknya aku akan meminta bantuan Rei untuk mengantarkanmu pulang! Titik. Tidak ada protes!" Finalnya.


Lusia baru ingin protes. Tapi kedatangan Rei yang baru kembali dari toilet, lebih dulu menarik perhatian mereka.


"Nah, kebetulan sekali kau datang di saat yang tepat. Tolong antarkan Lusia pulang. Supir yang seharusnya menjemput Lusia, tidak datang, dan aku harus pergi secepatnya karena memiliki urusan. Jadi bisa 'kan, kau membantuku? Pastikan sahabatku tiba dirumahnya dengan selamat!" tutur Gloria panjang lebar.


"Gloria, tidak per…"


"Sssttt… tidak ada protes!"


"Baiklah, aku akan mengantarkannya pulang. Kau tenang saja, dan jangan cemaskan dia." Potong Rei.


"Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu. Kalian hati-hati di jalan pulang," ucapnya.


...***...