Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 39 - Satu tahun lalu



...***...


Jakarta, Indonesia, satu tahun lalu.


2019


Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan lebat mengguyur seisi kota, setiap orang yang tengah terlelap di ranjang tidurnya semakin mengencangkan selimutnya. Enggan untuk beranjak bangun dari pembaringannya.


Malam itu begitu tenang. Tidak seperti biasanya, yang masih terus ramai walau malam semakin larut. Semua orang sibuk menjelajahi dunia mimpinya masing-masing. Tanpa ada yang menyadari bahwa diantara larutnya dan derasnya hujan yang mengguyur kota, sesuatu yang besar akan segera terjadi.


Sesuatu yang tidak pernah di duga sebelumnya, dan sesuatu yang mengguncang seisi dunia.



Elvina, yang masih berusia tujuh belas tahun. Kala itu, masih terjaga. Duduk di meja belajarnya yang diterangi lampu belajar.


Ketika siswa-siswi SMA lain sibuk tertidur dan beristirahat guna memulihkan energi mereka setelah seminggu padat belajar, beda halnya dengan dirinya yang masih terus berkutat dengan buku-buku dan soal-soal untuk ujian mendatang.


"Titik," gumamnya pelan begitu ia selesai merangkum beberapa materi yang harus dihafalnya.


Elvina beristirahat sejenak. Ia menaruh pena dalam genggamannya ke atas meja. Tangannya bergerak meregangkan setiap otot-otot jarinya yang kaku akibat terlalu banyak menulis, dilanjutkan dengan meregangkan tubuhnya agar kaku pada bagian punggungnya hilang.


Elvina memijat-mijat tengkuknya. Setelah di rasa lebih baik, ia lalu meraih buku berisi materi yang baru selesai dirangkumnya.


Elvina membaca pelan setiap deret kalimat yang tertera di sana. Tertulis dengan tinta hitam pekat dengan setiap deret huruf yang begitu rapi. Ia membaca ulang, memastikan tidak ada sedikitpun materi penting yang tertinggal untuk menghadapi ujiannya Minggu depan.


Ia menaruh buku di tangannya kembali ke atas meja. Rasa haus yang melanda tenggorokannya yang kering, membuat Elvina mau tidak mau harus beranjak guna mengambil air di ruang dapur.


Elvina meraih gelas di atas meja belajarnya yang telah kosong. Ia baru saja meneguk seluruh isinya hingga tandas beberapa waktu lalu.


Ia melangkah keluar dari dalam kamarnya. Elvina berjalan menghampiri dapur. Melewati kamar adiknya, William yang pintunya sedikit terbuka.


Elvina adalah anak pertama dari lima bersaudara. Ia memiliki empat adik. Dua diantaranya duduk di bangku sekolah dasar, kemudian satu masih belum berusia genap satu tahun, dan satu lagi adalah William yang kini duduk di bangku SMP kelas dua.


Elvina menghentikan langkah kakinya saat melihat pintu kamar William yang tertutup dengan tidak rapi. Membuat sedikit celah yang memudahkan Elvina dapat melihat ke dalam kamar adiknya.


Ia menatap ke dalam. Tangannya bergerak mendorong pintu itu, hingga terbuka cukup lebar. Elvina dapat melihat kamar adiknya dengan gradasi warna hijau, yang tampak berantakan seperti biasanya.


Elvina mendengus kesal. Ia kemudian melangkah masuk seraya memungut beberapa pakaian kotor yang berserakan di lantai.


"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam," ucapnya pada William yang juga masih terjaga.


Laki-laki itu melirik ke arah datangnya suara sejenak, kemudian balik memfokuskan diri pada layar ponselnya.


"Memangnya kenapa? Lagipula ini hari Jumat malam dan besok adalah weekend. Itu artinya, aku bisa tidur seharian, besok," sahutnya. William menggerakkan kedua jempolnya guna menyerang musuh dalam game online yang tengah dimainkannya. Elvina menghela napas kedua kalinya.


...***...