
...***...
"Darling!" Dorothy menghampiri pria itu dan duduk tepat di sampingnya. Lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada Dorothy yang baru saja datang.
"Kenapa kau ke sini, sayang?"
"Karena ada yang harus kita bicarakan. Ini mengenai sikapmu yang tiba-tiba aneh," tutur Dorothy. Cato yang mendengarnya hanya diam sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku sudah dengar dari Joe dan Derek. Anak-anak bilang sikapmu berubah aneh setelah kau bertemu dengan Miles dan Martin di laboratorium mereka. Apakah kau berdebat dengan mereka mengenai sesuatu sampai-sampai membuatmu berubah aneh begini?" Dorothy bertanya dengan hati-hati. Bagaimanapun semua masalahnya belum jelas dan dia kemari hanya berusaha untuk membuat suaminya sedikit lebih tenang agar semuanya menjadi jelas.
"Kami hanya beradu argumen kecil. Ini mengenai proyek mereka. Mereka memintaku untuk membantu proyek mereka, padahal aku tidak mau."
Dorothy mengerutkan kening. Baru pertama kali dia mendengar suaminya itu menolak ajakan Martin dan Miles yang memintanya bergabung dalam suatu proyek. Biasanya Cato selalu ikut bergabung dan campur andil di dalam setiap proyek yang mereka buat. "Kenapa kau tidak mau? Tidak biasanya kau menolak permintaan mereka."
"Aku tidak bisa menjelaskan alasannya padamu sekarang. Intinya aku menolak, dan mereka terus memaksaku untuk bergabung. Mereka bahkan terus menghubungiku."
"Memangnya keputusanmu sudah benar-benar bulat? Apakah kau tidak bisa memikirkannya sekali lagi? Mungkin saja Miles dan Martin benar-benar membutuhkan bantuanmu."
Cato menatap istrinya itu lekat. Dorothy mungkin bisa dengan mudah mengatakan itu karena dia tidak tahu apa-apa. Tapi kalau dia sampai tahu, Cato yakin wanita itu juga pasti akan mengambil keputusan yang sama dengannya.
...*...
Malam semakin larut, dan tengah malam tanpa terasa telah berlalu. Selama berjam-jam orang-orang di dalam rumahnya sibuk dengan aktivitas malam mereka, yaitu tidur dan berkelana di alam mimpinya masing-masing.
Sebelum tidur, Cato juga sempat mendapatkan panggilan telepon dari Martin yang masih berusaha memintanya membantu mereka. Pria itu benar-benar tidak kenal lelah dan pantang menyerang. Dia bahkan terus berjuang dengan harapan bisa membujuk Cato bergabung dalam penelitian mereka. Selain itu keputusan Miles dan Martin bukan tanpa alasan.
Cato adalah sahabat mereka sejak di bangku kuliah, pria itu juga menjadi salah satu lulusan terbaik di jurusannya, dan lagi Cato sudah menjadi bagian dari mereka. Hal ini membuat Miles dan Martin tidak bisa mempercayai ilmuwan lain selain Cato. Terlebih pria itu juga lebih mudah untuk di ajak kerja sama. Ya... Kalau dia benar-benar sudah menerima ajakan mereka.
Cato membuka kedua matanya perlahan. Rasa haus benar-benar membuat tidurnya terganggu. Ia bangun dan melirik jam yang tergantung di dinding. Malam itu jam menunjukkan pukul satu dini hari yang mana artinya dia belum benar-benar tidur genap delapan jam.
Cato beranjak dari ranjang tidurnya. Dia berusaha untuk mengambil air minum guna meredakan rasa hausnya. Dengan perlahan-lahan, Cato pergi meninggalkan kamar dan pergi menuju lantai dasar rumahnya.
...***...