
...***...
Rei terdiam menatap Dorothy. Tiba-tiba saja tanpa sebab kepalanya kembali di serang rasa sakit, membuat Rei meringis kesakitan.
"Arghhh!!"
Rei memegangi kepalanya. Rasanya benar-benar sakit.
"Rei?" Elvina dan yang lainnya seketika dibuat cemas dengan Rei yang mendadak meringis.
"Rei, kau kenapa? Apakah kau baik-baik saja?" Lucy sama cemasnya dengan yang lain.
"Arghhh!!!"
Kepalaku sakit… rasanya benar-benar sakit… Rei menjambak rambutnya sendiri.
A-apa yang terjadi denganku… kenapa rasanya sakit?
Rei memejamkan kedua matanya. Rasa sakit yang dia rasakan benar-benar kuat.
Bersamaan dengan itu, ia mulai kembali melihat setiap kepingan kejadian yang pernah dialaminya.
"Jangan takut. Aku tidak akan menangkapmu. Pergilah…"
Suara seorang laki-laki mendadak terdengar di kepalanya. Rei tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi ia bisa mendengarnya.
Tak lama, Rei kembali melihat potongan lain. Dalam potongan ingatannya, ia terlihat berlari di sebuah hutan dengan tubuh begitu kacau.
Mendadak ia berhenti saat secara tidak sengaja melihat seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya berada.
Mereka beradu tatap dalam waktu cukup lama. Saling pandang satu sama lain tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Rei!!" Elvina mengguncang tubuhnya kuat-kuat. Rei seketika tersadar, dan rasa sakitnya mendadak hilang bersamaan dengan kepingan terakhir ingatannya.
Rei terdiam sambil berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
"Rei?" Semua orang menatapnya dengan wajah cemas. Rei mendadak diam tanpa kata.
"A-aku ingat…" gumamnya pelan.
Elvina dan yang lainnya spontan mengubah air muka mereka dengan raut wajah bingung.
"A-aku ingat sekarang, aku pernah bertemu denganmu…" Rei mendongak menatap Dorothy. Beradu tatap dengan wanita dihadapannya.
Dorothy terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya wanita itu tersenyum simpul.
"Sudah aku duga. Ternyata itu benar-benar kau," katanya.
"Huh? Apa maksudmu? Kau pernah bertemu dengan Rei sebelumnya? Apa ini? Apa yang terjadi?" Elvina benar-benar tidak mengerti situasinya.
"Rei, bisakah kau jelaskan apa yang kau maksud?" Elvina mendongak pada Rei.
"Aku baru saja melihatnya…, entah apa yang terjadi. Tapi kepalaku benar-benar sakit saat aku melihatnya, dan kemudian baru saja aku melihat dia dalam ingatanku."
"M-maksudnya… kau sudah mengingat semuanya?" William tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Apakah itu benar, Rei? Kau sudah bisa mengingat semuanya? Ingatanmu sudah kembali?" Elvina meminta penjelasan.
"A-aku tidak yakin…, tapi sepertinya begitu."
"Syukurlah!" Elvina dan William tersenyum. Mereka spontan memeluk Rei senang.
"Aku benar-benar lega mendengarnya."
"Tapi sejak kapan ingatanmu kembali?"
"Semuanya terjadi begitu saja," ujar Rei.
"Jadi dalam ingatanmu, kau pernah bertemu dengan Dorothy sebelumnya?" tanya Elvina.
"Iya…, aku melihatnya."
"Memangnya dimana kalian pernah bertemu, Dorothy?" Elvina kembali mengalihkan fokusnya pada wanita di sana. Yang bisa menjelaskan situasinya secara rinci saat ini hanya dia.
"Kejadiannya sudah lama sekali. Setahun yang lalu, di pulau ini."
"Setahun yang lalu?" Elvina dan William terdiam.
"Itu artinya…, saat Rei menghilang?"
"Jadi benar dugaan kita selama ini? Rei juga adalah evolver, dan dia juga benar-benar di culik ke pulau yang sama?" William bergumam.
"Tapi, tunggu. Kau bilang pulau ini?" Elvina mengerutkan dahi. Jelas-jelas kejadian ini sungguh aneh.
...***...