
...***...
"Om, tan, boleh tidak kalau kami meminta bantuan?" Meredith menatap Cato dan Dorothy secara bergantian. Ia tampak ragu untuk mengatakan tujuannya mengajak mereka berbicara seperti sekarang ini.
"Selagi kami bisa membantu, akan kami bantu." Dorothy menjawab dengan penuh kelembutan.
"Apa yang bisa kami bantu?" Kali ini giliran Cato yang mengajukan tanya. Lelaki itu menatapnya dengan raut wajah bingung.
"Begini, kami harus pergi menghadiri seminar lain. Tapi seminarnya agak lama, dan itu di luar kota. Kami takut tidak bisa menjaga Lusia, maka dari itu kami mau meminta bantuan untuk... Tolong jagakan Lusia untuk kami." Meredith menjelaskan tujuannya.
"Memang kapan seminarnya, dan berapa lama?"
"Minggu depan, dan hari Senin kami harus sudah langsung berangkat. Untuk seminarnya sendiri mungkin sekitar dua Minggu, soalnya ada lebih dari satu seminar yang harus kami hadiri." Lelaki yang menjadi suaminya Meredith itu menambahkan.
"Begitu rupanya..." Cato terdiam sambil menganggukkan kepalanya pelan, menanggapi kalimatnya. "Kalau begitu tidak perlu cemas. Akan kami jaga Lusia untuk kalian."
"Sungguh?" Meredith tak percaya. Cato dan Dorothy hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Meredith yang mendengar itu sangat berterima kasih karena Cato dan Dorothy sudah mau membantunya, dia dan suaminya benar-benar merasa terbantu.
...*...
"Sudah semuanya."
"Syukurlah, kalau begitu hati-hati di jalan."
"Iya, kami pamit!" Meredith berpamitan. Tak lupa dia juga memeluk dan mencium Lusia sebelum pergi. Meredith sebelumnya sudah meminta izin pada putrinya untuk pergi selama beberapa hari. Dengan lembut, dia berusaha memberikan pengertian pada putrinya yang masih sangat kecil itu. Awalnya Lusia memang menolak dan menangis saat Meredith mengatakan bahwa dia harus pergi. Tapi setelah bujuk rayunya, akhirnya Lusia mau mengerti dan mau menunggu di rumah Cato bersama dengan Derek dan Joe.
Setelah berpamitan, mobil yang mereka tumpangi secara perlahan keluar dari pekarangan rumahnya. Cato dan yang lainnya terdiam sambil melambaikan tangan ke arahnya yang terus berlalu sampai akhirnya mobilnya menghilang karena semakin jauh.
Sepeninggalan Meredith dan suaminya, Dorothy mengajak Cato untuk masuk ke dalam rumah. Sekarang hanya tersisa mereka bertiga yang belum berangkat.
Hari ini Dorothy masuk agak siang ke tempat kerjanya, jadi dia bisa bersama Lusia untuk beberapa saat. Sementara Cato hari ini tidak memiliki rencana apa-apa. Dia tidak berniat menemui kedua rekannya hingga situasi mereka dan rencana mereka benar-benar siap untuk dioperasikan.
Dorothy sudah lebih dulu melanggeng masuk ke dalam rumah, sementara Cato yang berjalan dibelakangnya mendadak berhenti saat telepon genggamnya berbunyi, menandakan sebuah panggilan masuk dari seseorang.
Cato merogoh benda yang ada di dalam kantong celananya itu, kemudian mengecek siapa yang baru saja berusaha menghubunginya. Begitu ia melihat nama kontak yang tertera di sana, Cato bergegas pergi ke tempat yang lebih sepi untuk menerimanya. Cato tidak ingin sampai ada orang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Ada apa? Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak bisa datang hari ini?" kata Cato dengan sedikit berbisik. Kini dirinya berada di taman samping rumahnya. Berdiri di dekat sebuah pohon rindang yang ada di sana.
...***...