
...***...
"Lebih baik kau saja yang pergi ke rumah sakit. Keningmu terluka." Rei menunjuk keningnya sendiri memberikan isyarat.
Ia berbalik, menarik motornya menjauh dari sana. Kerusakannya memang cukup parah, tapi anehnya benda itu masih bisa menyala.
"Aku duluan." Rei pergi meninggalkan mereka semua yang masih speechless dengan apa yang mereka lihat.
"Woah… apa itu tadi? Dia sungguh baik-baik saja?" Semua orang mendadak berbisik membicarakan Rei dan keanehannya.
Bagaimana mungkin dia baik-baik saja padahal aku menabraknya sangat keras? Dia bahkan terluka sampai berlumur darah seperti itu, bagaimana bisa dia masih dapat bangun dan berjalan seperti tidak terjadi apa-apa? Ini benar-benar aneh, batinnya. Ia terdiam memandangi Rei yang kini hilang dari penglihatannya.
...*...
Rei mengunjungi rumah Elvina setelah kejadian yang di alaminya. Elvina dan William juga baru saja pulang.
"Rei? Apa yang terjadi denganmu?" Elvina cemas melihat keadaan Rei yang seluruh pakaiannya berlumur darah.
"Kau terluka? Kenapa pakaianmu seperti ini?" William menghampirinya.
"Aku baik-baik saja."
"Lalu bagaimana kau bisa seperti ini?"
"Aku akan menjelaskannya di dalam."
"Baiklah, ayo masuk." Elvina, Rei dan William melangkah masuk. Di dalam, Rei menjelaskan segalanya pada Elvina dan William mengenai apa yang baru ia alami saat di perjalanan pulang.
Elvina membantu Rei untuk membersihkan pakaiannya yang kotor hingga benar-benar bersih. Sementara itu, ia mengenakan pakaian lain miliknya yang ia tinggalkan di rumah Elvina.
Pukul lima sore, Rei baru pulang setelah membersihkan seluruh pakaiannya dan mengeringkannya dengan mesin pengering.
...*...
Pricilla Audya, wanita yang berprofesi sebagai dokter bedah di salah satu rumah sakit ternama, duduk termenung di meja kerjanya seraya memikirkan kejadian tadi siang ketika ia secara tidak sengaja menabrak seorang anak SMA yang tengah melintas dari arah yang berlawanan dengannya.
Pricilla masih tak mengerti kenapa lelaki yang ditabraknya bisa baik-baik saja padahal kecelakaan yang disebabkannya telah membuat ia terluka cukup parah.
Yang tak masuk di akalnya adalah, kenapa lelaki itu masih bisa bangun dan pergi dengan motornya padahal sudah jelas-jelas ia terluka parah.
Tidak mungkin dia adalah seorang manusia super, kan? Hal seperti itu sama sekali tidak ada di dunia ini! Pricilla terus dibayang-bayangi tanda tanya mengenai sosok Rei dan keanehan yang di milikinya.
Tok! Tok!
Pintu ruang kerjanya di ketuk pelan. Seketika lamunannya tentang Rei buyar bersamaan dengan suara yang menginterupsi seisi ruangannya.
Pricilla menoleh ke arah pintu masuk dan mendapati salah satu perawat yang kini berjalan memasuki ruangannya.
"Apakah kau yakin akan tetap berjaga malam ini? Bukankah kau baru saja mengalami kecelakaan?" Mila, adalah perawat sekaligus sahabat SMA Pricilla yang sudah bersamanya sejak SMP hingga kuliah, bahkan mereka bekerja di rumah sakit yang sama.
"Aku tidak apa-apa," sahut Pricilla.
"Kau yakin? Apa tidak lebih baik kau minta dokter lain untuk berjaga malam ini? Sepertinya itu lebih baik agar kau bisa beristirahat."
"Sungguh, aku tidak apa-apa. Hanya saja ada yang mengganggu pikiranku."
"Apa? Apakah mantanmu itu masih menghubungimu?"
"Ini bukan tentangnya!"
...***...