
...***...
"Ruangan ini…"
"Laboratorium saudara kembarku. Kita bisa gunakan ruangan ini untuk melakukan prosesnya."
"Tapi, bukankah kau bilang ruangan ini tidak akan pernah kita gunakan lagi sebagai tanda penghormatan terakhir untuk mendiang kembaranmu yang mengalami kecelakaan itu?"
"Iya. Tapi aku pikir, kita tidak punya pilihan lain selain menggunakannya. Terlebih aku yakin, Miles juga pasti akan lebih senang kalau kita menggunakan laboratoriumnya untuk proses spesial ini."
"Kau yakin dengan keputusanmu?"
"Yakin seratus persen. Maka dari itu, kita lakukan prosesnya secepat mungkin."
"Baiklah kalau kau berkata seperti itu. Kita percepat prosesnya."
"Kita lakukan besok."
"Okay. Kalau begitu, awasi kondisi dan tanda vitalnya selama semalaman ini. Pastikan semua kondisinya dalam keadaan baik." Lelaki itu beralih fokus pada Evolab yang sejak tadi mengikuti mereka.
"Baik, tuan."
"Oh ya. Lakukan penjagaan juga, dan jangan biarkan ada orang lain yang masuk. Kalau perlu, gunakan android untuk mengeceknya secara berkala ke dalam ruangannya, dan tempatkan beberapa penjaga di depan pintu kamarnya."
"Saya mengerti, tuan." Evolab itu menganggukkan kepalanya pelan sebagai tanda mengerti. Ia lantas berlalu meninggalkan mereka berdua. Ia harus menjalankan tugasnya secepat mungkin.
"Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus mengecek yang lain."
"Baik. Aku akan tetap di sini untuk mengecek apakah semua sistemnya bekerja dengan baik," kata Martin.
Kini di dalam ruangan itu benar-benar hanya tinggal Martin seorang. Lelaki itu terdiam sambil memperhatikan pintu dimana lelaki tadi meninggalkan ruangannya.
"Maaf, tapi aku melakukan ini bukan hanya untuk keuntungan kita. Tapi juga untuk keuntungan besar ku. Hanya dia yang mampu melindungiku dari serangan R31 kalau sampai hal itu terjadi. R31 akan sangat berbahaya, terlebih aku tidak tahu kekuatan apa saja yang muncul setelah dia menyerap serum Evolgesys yang aku buat. Sejauh ini, hanya ada beberapa kekuatan saja yang aku tahu sebelum akhirnya dia memberontak dan melarikan diri dari menara. Maka dari itu, aku harus punya persiapan, dan satu-satunya tameng kuat yang aku miliki saat ini hanyalah Lusia."
...*...
"Rei, darimana saja kau? Aku dan William mencarimu sejak tadi!" ujar Elvina begitu mendapati lelaki yang menjadi sepupunya itu baru saja tiba dan langsung mengambil duduk tepat di sebelahnya.
Sekarang ini, Elvina dan penduduk lain sedang duduk bersama di depan api unggun yang telah mereka ciptakan. Semua orang berkumpul sambil menghangatkan diri. Menyanyi serta bercerita banyak hal.
Sementara sebagian duduk dan bersenang-senang, beda halnya dengan sebagian penduduk desa lainnya yang kini sedang sibuk mempersiapkan meja makan.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan tadi. Maaf karena pergi tanpa memberitahu kalian," balas Rei dengan sedikit lesu.
Elvina yang menyadari hari itu lantas diam dan menatapnya lekat. Membuat Rei seketika membuat Rei gugup saat mendapati tatapan dari Elvina. Yang membuat Rei gugup adalah takut kalau Elvina menyadari ada yang sedang dia sembunyikan. Terlebih wanita itu cukup teliti dan selalu peka akan segala situasinya.
"Ada apa denganmu Rei?" Elvina tiba-tiba saja memegangi wajahnya. Mengalihkan pandangannya agar menatap Elvina.
"Apa maksudmu? Aku tidak apa-apa. Memangnya aku kenapa?"
"Kau seperti habis menangis. Kau baru saja menangis kan?" ucap Elvina.
...***...