
...***...
Brukk!
Rei terjatuh di lantai dengan posisi sebagai tubuhnya menimpa sofa bed yang ada di kamarnya.
Tubuhnya lemas bukan main. Energinya serasa terkuras habis akibat seharian mencari William dalam keadaan energi yang masih belum stabil.
Louis… pikirnya. Hanya lelaki itu yang saat ini tahu persis bagaimana kondisinya.
Louis muncul seperti biasanya. Ia terbelalak begitu melihat tuannya dalam keadaan tidak baik.
"Tuan." Louis membungkuk di dekatnya.
Rei dalam keadaan setengah sadar akibat energinya yang terus berkurang.
Rei menatap nanar Louis yang kini tampak cemas dengan keadaannya.
"Astaga. Energi tuan benar-benar terkuras habis," cemasnya.
"Ayo, kubantu tuan ke tempat tidur agar bisa memulihkan energi." Louis mengangkat tubuh Rei dan memindahkannya ke ranjang.
"Sudah kubilang tuan lebih baik istirahat, kondisi tuan dalam keadaan kurang stabil akibat Melinda dan Andrich yang menguras tenaga tuan. Tapi, tuan tidak pernah mau mendengarkan nasihatku." Louis menarik selimut guna menutupi tubuh tuannya.
"Lebih baik tuan tidur. Dengan begitu, energi tuan akan kembali terisi."
Rei tak banyak bicara. Ia bahkan hanya bisa mendengar suara Louis secara samar-samar saja.
Rei memejamkan kedua matanya perlahan, dan mulai terlelap dalam tidurnya.
"Memang ini yang tuan butuhkan," gumamnya sambil menatap lekat Rei yang sudah terpejam di atas ranjang tidurnya.
...*...
Plakk!
Satu tamparan lagi. Kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya.
William mengerjap. Ia membuka kedua matanya perlahan sambil meringis.
Kedua tangan dan kakinya terasa sakit, ditambah tubuhnya tidak bisa digerakkan.
Pandangannya semula buram, tapi lama kelamaan, William bisa melihat Joe yang kini berjongkok dihadapannya.
"Bangun!" katanya sambil menatap William.
William mengedarkan pandangannya sambil berusaha keras mengumpulkan seluruh kesadarannya yang masih belum pulih sepenuhnya.
Ruangan gelap yang tampak asing, lantai marmer yang begitu dingin, dan suhu ruangan yang begitu dingin, William bertanya-tanya dimana dirinya sekarang.
"Hey!" Joe membuatnya tersentak kaget.
William menoleh dan spontan membulatkan matanya saat sadar siapa lelaki yang berdiri dihadapannya.
Sepersekian detik kemudian, ia mulai panik. William mulai memberontak dan berteriak meminta dilepaskan.
"Lepaskan aku!" teriak William dengan tatapan tak bersahabat.
"Jangan berisik!" Joe membalas dengan ketus. Ia bangun dari posisi jongkoknya, menghampiri salah satu rak kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi mereka berada.
"Aku ingin pulang. Lepaskan aku!" teriak William lagi.
Joe mengambil sesuatu dari dalam laci rak yang dihampirinya.
"A… apa yang akan kau lakukan padaku?" William mulai merasa was-was. Ia takut kalau Joe akan membawa jarum suntik lagi dan membiusnya seperti semula. Tapi secara logika, itu tidak mungkin. Lagipula untuk apa Joe membangunkannya kalau ujung-ujungnya akan menyuntiknya dengan obat bius lagi 'kan?
Sayangnya logika William sedang tidak bekerja saat ini. Panik lebih dulu menguasai dirinya, dan membuat William sama sekali tidak bisa berpikir jernih dengan logikanya.
Joe mengambil sebuah gelang berwarna putih dengan strip hitam, dan lampu hijau yang menyala.
Ia berbalik dan dan menghampiri William yang terduduk di sana.
"Aku tidak akan melukaimu," gumam Joe dingin. Ia kembali berjongkok di hadapan William lalu memasangnya.
...***...