Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 124 - Bayar dengan apa?



...***...


Leon menghentikan mesin mobilnya di depan sebuah restoran yang cukup populer. Elvina tahu restoran itu, ia bahkan sempat ingin mencoba makan di sana bersama Rei dan William, sayangnya tidak pernah terwujud karena Rei yang sempat hilang.


"Kita makan di sini." Leon melangkah keluar dari dalam mobil diikuti oleh Elvina.


Elvina terdiam sejenak mengamati tempat tersebut. Tampak sangat ramai, bahkan dari jendelanya saja, Elvina dapat melihat bahwa tempat itu penuh dengan pengunjung yang datang untuk menikmati waktu makan siang mereka.


"Ayo masuk, apakah kau tidak lapar?" Leon melirik Elvina yang hanya diam tanpa kata.


"Pak, apakah tidak sebaiknya kita pergi ke tempat lain? Di sini tampaknya penuh, lihat saja tempatnya sangat ramai." Elvina menunjuk ke arah jendela.


"Tidak perlu cemas tidak kebagian tempat duduk. Lagipula aku kenal dengan pemiliknya." Leon menarik tangan Elvina, menuntunnya tanpa permisi.



Mereka melangkah masuk ke dalam sana. Begitu tiba di dalam, Elvina melongok saat melihat tempat itu yang begitu ramai dikunjungi oleh pelanggan, bahkan sampai memadati sebagian besar meja-meja yang tersedia di sana.


"Lewat sini." Leon menarik tangan Elvina menerobos beberapa meja yang berderet di sebelah kanan mereka. Mereka berdua melangkah menaiki tangga hingga tiba di lantai dua. Di lantai atas juga, Elvina melihat banyak pelanggan. Namun tak sepenuh di lantai bawah karena meja yang terbatas.


"Benar-benar tidak ada meja yang ko…" Belum sempat dirinya menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah menarik tangannya lagi menuju arah lain. Menuntun Elvina ke ruangan lain yang terlihat lebih sepi. Sampai akhirnya mereka tiba di lantai tiga dimana ruangan-ruangan VIP tersedia.


Mereka berjalan menyusuri koridor. Elvina hanya diam dan terus melangkah sementara sebelah tangannya di tarik Leon sejak tadi.


Dia benar-benar keras kepala untuk makan di sini, pikir Elvina.


Leon melirik ke arahnya, bingung. "Saya bisa jalan sendiri, bapak tidak perlu menarik-narik tangan saya seperti itu," ujarnya.


"Aku menarik tanganmu karena kau tidak mau jalan sendiri, dan kau berjalan begitu lambat."


"L… lambat?" Elvina mengulang kalimatnya.


"Sudahlah, ayo masuk." Leon kembali melangkahkan kakinya dengan diikuti Elvina dibelakangnya. Mereka masuk ke dalam salah satu ruangan khusus. Di sana, Leon menemui salah satu pelayan yang kemudian mengantarkan mereka menuju meja yang berada di dekat jendela.


Mereka berdua duduk di salah satu meja yang terdapat di sana. Elvina terdiam melihat meja di sekelilingnya. Entah kenapa Elvina merasa kalau meja yang mereka tempati sudah di pesan sebelumnya, apalagi tidak ada pengunjung lain di meja yang dekat dengan tempat mereka duduk.


Leon sibuk berbicara dengan pelayan yang mengantarkan mereka. Tidak lama setelah pelayan itu pergi, ia lalu beralih fokus pada Elvina yang duduk berhadapan dengannya.


"Kau ingin pesan apa?" Leon menyodorkan buku menu di tangannya.


"Um… saya tidak nyaman kalau harus duduk seperti ini dengan bapak, lebih baik saya makan di lantai bawah saja. Boleh, kan?" Elvina nyaris bangun, tapi Leon cepat-cepat menahannya.


"Kau ingin makan sendiri? Lalu bagaimana caranya kau bayar?" tanyanya retoris.


Elvina tersentak. Ia baru sadar bahwa tas berisi dompet miliknya tertinggal.


...***...