
...***...
"Argh, bertemu denganmu menghambat pekerjaanku."
Melinda terkekeh mendengarnya. "Kenapa? Apakah adik kecilmu ini bangun?" Melinda tanpa permisi memegang area sensitifnya. Dari balik sana, ia dapat merasakan benda itu mulai mengeras.
"J… jauhkan tanganmu!" Azura semakin gugup, sedangkan Melinda lagi-lagi hanya bisa terkekeh menanggapi reaksinya.
"Aku sudah tidak sadar untuk nanti," lirih Melinda. Ia berjinjit agar kepalanya bisa mencapai telinga Azura. "Sampai nanti," bisiknya tepat di telinga Azura.
Azura hanya bisa menelan saliva-nya susah payah, berusaha menahan birahinya. Sungguh sulit baginya menahan diri setiap kali berhadapan dengannya.
Apalagi jika sudah berkaitan dengan perlakukan Melinda, tangan-tangannya selalu bisa memanjakan setiap bagian tubuhnya.
Melinda adalah bentuk gambaran nyata dari hasrat dan gairah setiap pria.
Gadis itu bergerak melewatinya, melanjutkan perjalannya yang hendak pergi menemui profesor diruangannya.
Azura tiba-tiba teringat sesuatu. Ia langsung menghentikan langkah Melinda begitu ingat ada yang harus ditanyakannya.
"Tunggu, ada yang ingin aku tanyakan," teriaknya. Melinda spontan berbalik begitu mendengar Azura memanggilnya.
"Apakah kau tahu tempat ini?" Azura menunjukkan layar hologram yang tampil pada telecosys di pergelangan tangannya.
Pada layar hologram yang dilihatnya, Melinda melihat sebuah peta sebuah kota. Peta perumahan elite yang cukup dikenalnya. Melinda pernah melihat peta itu sebelumnya.
"Bukankah ini peta menuju rumah Damaris dan Sofia? Sepasang suami-istri evolver yang dulu sempat membuat kekacauan di laboratorium?" Melinda memperjelas lokasinya, dan ia semakin yakin dengan dugaannya.
"Ternyata dugaanku benar," gumam Azura pelan.
"Memangnya kenapa kau bertanya?"
"Begitu rupanya. Baiklah kalau begitu aku pergi, aku tidak memiliki banyak waktu lagi." Melinda melangkah pergi setelah mendaratkan satu kecupan lagi di pipi kirinya.
Sepeninggalan Melinda, Azura terdiam berusaha mengatur desir di dadanya dan libidonya yang berusaha ia kendalinya. Baru setelah Melinda benar-benar hilang dari pandangannya, ia bisa berpikir lebih jernih.
...*...
"Sebenarnya apa yang ingin anda bicara denganku, prof?" tanya Melinda begitu dirinya tiba di dalam ruangan profesor. Dihadapannya, lelaki tua itu duduk di kursi kebesarannya dengan posisi membelakangi dirinya.
"Aku ingin kau menggantikan tugas Joe untuk sementara waktu," ucapnya tanpa basa-basi.
"M… menggantikan tugas Joe?"
"Ya. Aku ingin kau pergi ke sana dan menangkap dua evolver yang selama ini berhasil melarikan diri dari kita."
Melinda merekahkan senyum begitu mendengar kalimat yang terlontar dari bibirnya.
"Dengan senang hati aku akan menjalankan tugas ini, prof. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menangkap mereka berdua dan membawanya kembali kemari."
"Ini hanya untuk sementara. Kalau kau gagal, maka kau akan kembali digantikan oleh Joe begitu dia sembuh sepenuhnya. Di sisi itu, ada tugas lain yang ingin aku berikan padamu. Kau harus mengawasi seseorang untukku dan pastikan apakah dia seorang evolver atau bukan."
"Tidak apa-apa, aku akan tetap bekerja semampuku walaupun ini hanya untuk sementara. Tapi… seseorang? Siapa yang prof maksud?"
"Aku tidak yakin aku memiliki data dirinya. Tapi Joe bilang, orang ini selalu bersama dengan target kita. Dia memiliki sebuah keganjilan yang harus aku pastikan apakah dia seorang evolver atau bukan. Maka dari itu, aku ingin kau mengawasi dia."
"Baik prof, aku mengerti."
"Kalau begitu, kau boleh kembali ke tempatmu," kata profesor.
...***...