Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 227 - Obor



...***...


Begitu pintu tertutup, Rei tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda. Ia berbalik dan kembali menoleh ke arah yang semula di tatapnya.


Bangunan tua yang semula kosong tak terurus, kini berubah ramai dalam sekejap.


Ada banyak sekali siswa-siswi yang berkeliaran di sana, serta beberapa guru terlihat melintas di sepanjang koridor.


Rei terdiam, ia mengerjap hingga matanya kembali berubah seperti semula.


Ia menyipitkan matanya hingga semua pemandangan biasa itu berubah mengerikan.


Semua siswa-siswi dan penghuni sekolah lain yang dilihatnya, berubah menjadi makhluk mengerikan dengan berbagai penampilan yang begitu menyeramkan.


Rei bergeming. Tak ada rasa takut sama sekali yang dirasakannya walaupun seluruh penampilan mereka tampak begitu mengerikan.


Rei menghela napas pelan.


Semua makhluk di sana beralih menatapnya secara bersamaan, mereka perlahan mulai bergerak menuju ke arahnya.


Aku tidak bisa terus mengulur waktu, kalau aku menghadapi mereka dulu, maka itu akan semakin membuat Lusia semakin berada dalam bahaya, pikir Rei.


Rei mengerjapkan matanya kembali. Kedua pupilnya berganti warna dengan dua warna berbeda.


Mata sebelah kirinya berwarna emas, sedangkan warna mata kanannya berwarna biru.


Rai memusatkan seluruh pikirannya, membayangkan sebuah obor dengan api yang menyala.


Dalam sekejap, di genggamannya benda itu muncul bersama api yang kini berkobar.


Begitu kedua matanya kembali berubah, Rei segera bergerak menerjang seluruh makhluk yang berkerumun di sana.


Semua makhluk itu bergerak menjauh saat Rei berjalan dengan obor berisi api di tangannya.


Rei mempercepat langkah kakinya, ia berteriak berulang kali berusaha mencari keberadaan Lusia di seluruh bangunan yang ada di sana.


Terlalu banyak bangunan, dan hal itu membuatnya benar-benar kesulitan untuk mencari keberadaan Lusia yang entah dimana.



Brukk!


Satu makhluk miliknya kembali terjatuh dan berakhir menjadi abu saat Louis menggunakan kemampuan tatapan apinya.


Pria itu cukup terkejut dengan kemampuan Louis yang ternyata diluar dari dugaannya.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai tuanku!" Louis berdiri tegap.


Tak ada sedikitpun luka yang menggores tubuhnya, berulang kali dengan lihainya ia mengalahkan semua lawannya.


"Ternyata kau lebih hebat dari yang aku kira," ujar pria itu. Ia lantas menggerakkan tangannya, mengisyaratkan pada makhluk besar menyeramkan lainnya yang kini tersisa.


Hanya makhluk itu satu-satunya anak buahnya yang tersisa. Tapi tampaknya, makhluk itu mulai ketakutan saat melihat semua rekan-rekannya binasa di tangan Louis dengan begitu mudahnya.


Makhluk itu tampak ragu-ragu untuk menyerang Louis. Tangannya bahkan sampai gemetar ketakutan melihat Louis.


"Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau diam saja? Ayo lawan dia!" pekik pria itu saat sadar satu anak buahnya ketakutan.


Makhluk itu hanya diam, bungkam tanpa ingin menjawab ucapannya. Wajahnya yang menyeramkan tampak berubah pucat.


"Kau takut dengannya? Astaga, dasar payah! Tubuhmu saja yang besar, tapi nyalimu benar-benar seperti seekor semut." Ledeknya kesal.


"Aku tidak seperti itu! Aku tidak takut dengannya!" Makhluk itu berbicara dengan suara bergetar.


"Kalau begitu cepat lawan dia!"


Dengan ragu-ragu ia bergerak mendekat ke arah Louis.


Louis tak tinggal diam. Ia juga berjalan menghampiri dirinya.


Louis mengerjapkan mata hingga berubah dari yang semula berwarna biru, kini menjadi abu-abu.


Makhluk itu hendak menyerang Louis, tapi hanya dalam satu gerakan matanya Louis, makhluk itu seketika terhempas jauh.


...***...