
...***...
"Jadi, kau masih bersikeras untuk tidak melepaskan mereka?" Ron menarik sebelah sudut bibirnya membentuk smirk.
"Kalau begitu, mungkin kau akan berubah pikiran setelah melihat ini." Ron mengeluarkan telecosys miliknya dan menampakkan sebuah panggilan dari profesor. Layar hologram langsung muncul dihadapannya.
"Joe," panggil profesor yang muncul dalam layar hologram yang mereka lihat.
"Aku tidak akan berubah pikiran. Kalau profesor mau membebaskan Derek dari hukuman, maka aku akan menyerahkan Elvina dan William."
"Ternyata kau keras kepala. Tapi sepertinya, kau akan mempertimbangkan lagi keputusanmu setelah kau melihat ini." Profesor bergerak, sedikit menyingkir dari layar dan menampakkan Derek yang tidak sadarkan diri.
"Derek!" Joe membulatkan kedua matanya.
"Pria itu…" William tertegun.
"Apa yang telah anda lakukan padanya!" Joe menatapnya dengan raut wajah kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya erat.
"Tidak ada. Aku hanya memberikannya obat bius agar dia tidak terus memberontak. Tapi tidak lama, karena setelah ini… dia akan melewati masa restart."
"Apa?!" Joe terdiam. Hatinya mencelos mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibir pria tua itu.
Masa restart? Itu artinya, Derek akan kembali mengalami masa inkubasi. Lalu dia akan menjalani masa penyempurnaan dan operasi pemasangan chipset di otaknya? Joe membatin.
Kedua matanya berkaca-kaca. Tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Derek kembali mengalami masa inkubasi dan pemasangan chipset di otaknya.
"Bagaimana Joe? Kau berubah pikiran? Akan kutunggu kau di laboratorium. Kalau dalam kurun waktu tiga jam kau tidak membawa Elvina dan William kemari, maka aku akan memulai operasinya lebih cepat."
Profesor memutus sambungan mereka hingga layar hologram itu lenyap dari pandangan mereka.
"Sekarang berikan dia pada kami, Joe!" Ron melangkah menghampiri Joe dengan beberapa anak buahnya.
Joe terdiam dengan hati gundah. Ia tidak ingin Derek kembali mengalami masa inkubasi dan operasi pemasangan chipset di otaknya.
Tapi, bagaimana caranya? Kalaupun aku memberikan Elvina dan William, profesor akan tetap melakukan itu padanya.
Perasaan Joe berkecamuk. Berbagai pertanyaan mulai menghampiri dirinya. Ia mulai dibuat bingung mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.
"Will!" Elvina berteriak menyerukan nama adiknya.
William kembali meronta, berusaha melepaskan diri dari Joe yang kini fokusnya terpecah.
"Lepaskan aku!" tukas William sambil terus memberontak.
"El!" teriak William menatap kakaknya.
Elvina berusaha untuk bangkit dari posisinya, tapi Rei mencegahnya.
"Jika kau ke sana, maka kau juga akan tertangkap," kata Rei.
"Tapi kita tidak mungkin membiarkan Will begitu saja!"
"Tenagaku tidak cukup untuk membantunya, di tambah lagi… kau belum bisa menggunakan kekuatanmu karena gelang itu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Elvina semakin panik. Kedua matanya berkaca-kaca, ia sangat ingin berlari dan membantu adiknya membebaskan diri dari Joe. Tapi perkata Rei memang benar.
Kalau dirinya berlari dan membantu William, maka semua orang akan tertangkap. Terlebih jika membandingkan jumlah evolver yang datang dengan jumlah mereka benar-benar tidak sebanding.
Di sisi lain. Joe menoleh ke arah Elvina dan William secara bergantian, hatinya terenyuh. Ia seakan melihat keadaan dirinya ketika profesor berusaha memisahkannya dengan Derek.
Joe menoleh ke arah Ron yang kini semakin mendekat.
Tidak. Ini tidak benar, batin Joe sambil mengepalkan tangannya erat.
Ini salah!
...***...