Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 369 - Ancaman



...***...


"Argh!" Rei kembali melangkah mundur saat Melinda tanpa permisi meraba tubuhnya.


"Hentikan, aku sungguh tidak membutuhkan bantuanmu!" tukas Rei yang mulai merasa kesal atas ulah gadis mesum dihadapannya.


"Rei!" Suara itu, spontan membuat mereka berdua menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati Lusia yang berdiri di ambang pintu bersama Gloria.


"Lusia." Rei membelalakkan mata begitu melihat kekasihnya tiba dengan Gloria.



"A… apa yang kalian…" Kedua manik mata gadis itu mulai berkaca-kaca, ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


Rei segera menutupi tubuhnya. "Ini tidak seperti yang kau lihat." Rei menghampiri Lusia berusaha menjelaskan apa yang terjadi, diluar dugaan, gadis itu berlari meninggalkan ruang UKS.


"Lusia!" Rei mengejarnya.


Gloria terdiam tanpa menahan keduanya. Ia beralih fokus menatap Melinda yang menampakkan wajah tak bersalah sama sekali.


Melinda berjalan menuju pintu keluar. Gloria mencekal langkahnya dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam.


"Entah kenapa, tapi sejak beberapa Minggu ini, aku sering merasa ada yang aneh denganmu. Dan sepertinya dugaanku benar." Gloria mendelik ke arahnya.


Melinda melirik lewat ujung matanya.


"Aku peringatkan padamu, jangan berani mengusik hubungan Rei dan Lusia, karena aku tidak akan tinggal diam kalau kau berani berulah." Gloria berucap penuh penekanan.


Melinda terkekeh menanggapi kalimat ancaman yang berloncatan keluar dari mulut Gloria.


"Kau berusaha mengancamku? Itu tidak berpengaruh," balasnya. Ia menghempas tangannya hingga membuat Gloria melepaskan cengkraman tangannya.


Melinda melanjutkan langkahnya, melenggang meninggalkan ruang UKS.


Aku yakin, sejak awal dia berusaha untuk memisahkan hubungan antara Lusia dan Rei. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kalau dia berani membuat masalah lagi, lihat saja. Aku tidak akan tinggal diam, batin Gloria sambil mengepalkan tangannya.


...*...


Aku benar-benar harus mencari waktu yang tepat untuk menangkapnya. Tidak mungkin aku terus mengulur waktu. Andrich membatin.


Sudah cukup lama ia mengulur waktu untuk menangkap targetnya, dan sampai saat ini, ia sama sekali belum melakukan sedikitpun tindakan untuk menangkap gadis yang jadi targetnya.


"Kalau aku terus mengulur waktu, maka aku akan di marahi habis-habisan oleh tuan, yang paling parah, bisa saja tuan menggantikan aku dengan yang lain," gumamnya pelan.


Perhatian Andrich seketika beralih saat ia melihat Lusia yang datang ke tempat dimana dirinya berada.


Ia menghampiri satu bangku kosong yang ada di sana, lalu duduk. Andrich beranjak dari tempatnya.


"Lusia?" Sebelah sudut bibirnya terangkat saat melihat gadis yang sedang ia pikirkan mendadak muncul dihadapannya.


"Kebetulan sekali, aku sedang memikirkan dia," gumam Andrich.


Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk menangkapnya, pikir Andrich mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berusaha mengamati situasi sebelum bertindak.


Keadaan aman. Tidak ada banyak orang yang berkunjung ke taman selain dirinya dan Lusia yang kini duduk di sana.


Andrich melangkah menghampiri dirinya. Tapi belum sempat ia sampai di dekat Lusia, Rei tiba-tiba muncul dan membuat langkahnya terhenti.


"Lusia!" teriak Rei menghampiri gadis yang terduduk di sana.


Lusia bangun dari duduknya ketika sadar Rei tiba di sana. Ia memutar tubuhnya, berhadap-hadapan dengan Rei yang baru saja datang.


"Dengarkan penjelasan dariku dulu," tutur Rei pada Lusia, ia melangkah mengikis jarak di antara mereka.


...***...