
...***...
Tring!
Bel di pintu masuk berbunyi ketika ada pelanggan yang datang dan pergi. Beberapa orang tampak tengah duduk di meja yang ada, menikmati pagi mereka dengan ditemani secangkir kopi dan beberapa hidangan kecil. Tidak jarang orang yang duduk sambil membaca buku.
Elvina dengan malas memasuki antrean yang tengah berjalan. Ia berdiri di belakang seorang pria bermantel mocca yang sibuk memainkan ponselnya.
"Ini yang aku benci ketika harus membeli kopi," gumam Elvina pelan.
...*...
Joe menghentikan kedua langkahnya saat kedua pasang matanya menangkap sosok Elvina yang baru saja keluar dari dalam coffee shop. Pria itu mengeluarkan smirk-nya.
Aku menemukanmu, pikirnya. Begitu melihat Elvina beranjak pergi, Joe segera bergerak perlahan di belakangnya. Ia mengikuti Elvina yang sedang dalam perjalanan kembali ke kantor dengan kopi dan camilan ditangannya.
"Aku sudah membeli semuanya, sekarang hanya perlu memberikan semua ini pada si tukang perintah. Sial, dia membuatku menunggu selama dua jam hanya untuk membeli kopi dan camilan miliknya," gerutu Elvina kesal.
Waktunya kini terbuang cuma-cuma, hanya karena harus mengantre membelikan kopi dan camilan untuk Leon si wakil direktur yang menyebalkan.
Elvina terus melangkah. Jarak coffee shop yang letaknya tidak terlalu jauh, membuatnya memutuskan untuk berjalan kaki untuk bisa sampai di kantornya.
"Demi apapun, dia adalah laki-laki paling menyebalkan di dunia ini!" Elvina memonolog seraya terus melangkah.
Langkah Elvina mendadak terhenti saat ia menyadari keganjilan yang terjadi di sekitarnya.
"Akhirnya kita bertemu lagi. Kau tahu? Gara-gara aku gagal menangkapmu kemarin, aku sampai mendapatkan peringatkan dari profesor." Joe muncul dari arah belakangnya.
Elvina berbalik spontan. Ia menatap tajam tak bersahabat lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempatnya itu.
"Tapi kali ini, akan aku pastikan kalau kau tidak akan lepas lagi dari kejaranku. Akan aku pastikan, kau tertangkap!"
"Bermimpilah! Karena aku tidak akan semudah itu tertangkap olehmu!" Elvina mempersiapkan kuda-kuda, menyiapkan diri kalau-kalau pria itu mendadak menyerangnya.
"Tentu saja akan lebih mudah, karena kali ini, aku datang bukan tanpa persiapan." Joe mengeluarkan seringainya. Tangannya memencet telecosys di pergelangan tangannya yang dalam seketika membuat beberapa orang pria muncul dengan gerakan secepat kilat dari udara.
Elvina membulatkan kedua matanya menatap beberapa orang pria berpakaian hitam dengan tubuh besar. Pria-pria itu adalah anak buah Joe yang selama ini membantunya untuk mencari Elvina dan William.
"Kali ini, kau tidak akan bisa lari lagi…" Joe menggerakkan tangannya mengisyaratkan pada anak buahnya untuk menangkap Elvina.
Rei membuka kedua matanya spontan. Napasnya menderu, jantungnya berdebar hebat, bersamaan dengan itu keringat dingin bermunculan keluar menghiasi wajah tampannya.
"A… apa itu tadi?" Rei terbata, wajahnya terlihat begitu pucat ketika ia secara tidak sengaja memimpikan Elvina tanpa sebab.
Rei bangun dari posisinya yang semula terbaring di atas sofa di ruang tengah. Ia memegangi jantungnya yang berdebar hebat. "Kenapa perasaanku tidak enak? Apakah ini ada hubungannya dengan mimpiku tentang Elvina?"
Rei berusaha menenangkan diri, tapi gagal. Ia malah semakin resah. "Aku akan mengeceknya dan memastikan keadaannya baik-baik saja," gumamnya.
...***...