
...***...
Elvina dan William terus melangkah menyusuri jalan berusaha mencari Rei. Sesekali mereka berdua berteriak menyerukan nama sepupunya tersebut.
Rei, dimana kau sebenarnya? Kenapa kau menghilang? pikir Elvina resah. Ia terus melangkah sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling berharap menemukan sosok laki-laki yang menjadi sepupunya tersebut.
Elvina… Suara itu, mendadak terdengar di kepalanya. Elvina menghentikan langkahnya spontan saat ia mendengar suara Rei yang berbicara lewat telepatinya.
Rei, kaukah itu? Kau dimana? Aku dan Will mencemaskanmu, kau pergi kemana? tanya Elvina.
Aku di hutan, tolong aku!
"El?" William membuyarkan seluruh lamunannya. Elvina menoleh ke arah adiknya yang kini menatap dirinya dengan raut wajah bingung. "Kau baik-baik saja? Kenapa kau diam saja sejak tadi?" tanya William.
"Kau membuatku nyaris kehilangan petunjuk dari Rei!"
"Huh?" William menaikkan sebelah alisnya bingung. Elvina kembali terdiam berusaha fokus berkomunikasi dengan Rei lewat telepati.
Hutan? Baiklah, kami akan segera ke sana, balas Elvina.
Hutan di dekat sini hanya ada satu, dan itu tak jauh dari tempat aku dan William berada saat ini, ucap Elvina dalam hati. Wanita itu bergerak pergi dari tempatnya.
"Tunggu, kau mau kemana?" teriak William padanya yang bergerak begitu saja.
"Aku tahu dimana Rei berada."
"Benarkah? Bagaimana bisa?"
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang ikut aku!"
William bergegas berlari mengejar Elvina walaupun rasa bingung terus menghampirinya mengenai bagaimana caranya Elvina tahu dimana keberadaan Rei padahal sejak tadi mereka sama sekali tidak menemukan petunjuk apa-apa.
...*...
"Aku yakin sekali." Elvina mengangguk mantap. Mereka berdua terus melangkah memasuki hutan lebat.
Pandangan mata mereka terus mengedar ke sekeliling. "Sekarang bagaimana caranya agar kita bisa menemukan Rei?" William kembali melontarkan tanya.
"Dia yang akan menuntun kita menuju tempatnya berada," gumam Elvina.
...*...
Api berwarna biru perlahan-lahan menyala membakar setiap tanaman kering yang ada. Apinya semakin lama semakin besar hingga menciptakan asap yang terus mengudara hingga menembus lebatnya hutan.
Rei semakin kehilangan energinya. Ia mengerjap hingga iris matanya kembali seperti semula. Pandangan matanya semakin kabur hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.
Pria yang berdiri di hadapan Rei itu lantas mengepalkan tangannya begitu seluruh energi Rei diserapnya. Ia menghela napas beriringan dengan selesainya semua itu.
Pria itu menoleh ke arah Rei yang terbaring tak sadarkan diri. Ia menghampiri Rei dan berjongkok di dekatnya. Tangannya bergerak mengangkat dagu Rei hingga dirinya dapat melihat dengan jelas wajah Rei yang terpejam.
"Energi yang kau miliki benar-benar istimewa. Aku bahkan belum pernah merasakan energi seorang evolver senikmat ini. Siapa kau sebenarnya? Kenapa Joe dan anak buahnya mengejar-ngejarmu? Apakah kau salah satu evolver yang melarikan diri dari laboratorium?" Pria itu memonolog dengan mata yang terus memandang Rei.
Sementara itu, makhluk besar menakutkan yang semula menginjak Rei, kini berdiri dibelakangnya dengan begitu tenang. Ia hanya diam dan memperhatikan, dari sikapnya menunjukkan rasa segan yang begitu besar terhadap pria tersebut.
Fokus pria itu beralih saat sosok lain muncul tanpa diundang. Ia dengan membawa berita, menjelaskan bahwa ada yang mencari Rei.
...***...