Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 578 - Menara barat



...***...


Brukk!


Lucy terpental hingga menabrak dinding. Ia meringis menahan sakit.


"Lou!" Aland menatap penuh kesal pada Arleta. Lelaki itu lalu berlari menuju arahnya dengan tangan terkepal, bersiap untuk menyerangnya.


Wusshh…


Sekali lagi wanita itu mengibaskan tangannya. Aland terdorong ke belakang hingga tersungkur di lantai.


"Ternyata kalian hanya manusia bisa? Dengar! Kalian tidak akan bisa menang melawanku!" Arleta tersenyum menyeringai.


"Orang seperti kalian berniat untuk mengalahkan ku? Yang benar saja!"


Dorr! Dorr!


Lucy tanpa aba-aba menembak Arleta dengan thorny bites nya. Sialnya wanita itu terlalu waspada.



Arleta menghentikan laju peluru yang mengarah padanya, kemudian memutar arahnya pada Lucy hingga wanita itu tertusuk oleh pelurunya sendiri.


"Akh—" Lucy mengerang menahan sakit.


"Lou!" Aland bangkit dengan tertatih dan berlari menghampirinya. Ia berusaha membantu wanita itu.


"Lou, bertahanlah…" Aland menggenggam tangan wanita itu. Wajah Lucy mulai berubah pucat. Efek racun dari thorny bites nya mulai dia rasakan.


Seperti yang Aland ketahui, peluru pada thorny bites milik Lucy memiliki ukuran kecil seperti sebuah duri. Bukan hanya itu, di dalam pelurunya juga mengandung racun yang bisa melumpuhkan tubuhnya dalam sekejap.


Lucy terdiam tak bersuara. Ia mulai tidak bisa merasakan apa-apa.


"Lou, bertahanlah…" Aland segera mengeluarkan peluru yang menusuk pada tubuh wanita itu dan menyedot racunnya. Berharap bisa menyelamatkan Lucy.


"Sudah aku bilang, kalian bukan tandinganku!" Arleta terkekeh melihat mereka yang begitu panik.


Di sisi lain, Rei yang terbaring dalam keadaan terpejam secara perlahan mulai sadar. Lelaki itu membuka kedua matanya secara perlahan.


Saat ia membuka mata, Rei mendengar suara samar-samar dari arah tak jauh dari tempatnya terbaring.


"Argh…" Rei meringis pelan. Kepalanya mendadak terasa sakit ketika pandangannya jelas.


Rei mulai memberontak. Ia sadar tubuhnya dalam keadaan terikat, dan ia berusaha membebaskan diri.


"Lou, aku mohon bertahanlah…"


Rei bisa mendengar suara Aland yang berucap resah. Ia mengedarkan pandangannya, berusaha mencari pemilik suara tersebut.


Suara ini…


Aland? Liana?


Rei bisa melihat keduanya di sana. Aland tampak bersusah payah berusaha menolong Lucy, sementara Lucy tampak pucat dan mulai kehabisan tenaga.


Apa yang terjadi dengan mereka? Aku harus bangun! Aku harus bisa lepas dari ikatan ini.


Rei terus memberontak. Namun usahanya sia-sia. Menyadari semua yang dilakukannya tidak membuahkan hasil, Rei lalu memejamkan kedua matanya.


Louis… batinnya.


Lelaki albino itu muncul di tepi ranjang tempatnya berada.


Tuan. Louis menatap Rei dengan wajah panik.


Lou, aku membutuhkan bantuanmu. Tolong lepaskan aku. Aku harus mengecek apa yang terjadi pada Liana dan Aland. Sepertinya mereka membutuhkan bantuanku.


Baik, tuan.


Louis menggunakan kekuatan, melepaskan Rei dari ranjang tersebut. Lelaki itu akhirnya bisa bebas dari ikatan yang mengikat tubuhnya.


"Argh!!!" Rei baru saja hendak bangun, tapi tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya. Perasaannya mendadak campur aduk, dan suara-suara aneh mulai di dengarnya bersamaan dengan rasa sakit yang semakin menjadi.


Louis berusaha membantu Rei. Ia menghampirinya guna memastikan keadaannya.


Tuan, kau baik-baik saja?


Kepalaku sakit… sakit sekali.


Biar aku membantumu.


Tidak! Lebih baik kau bantu Liana dan Aland. Mereka lebih membutuhkan bantuan.


Tapi, bagaimana denganmu?


Sakitnya akan hilang…


...***...