
...***...
"Dasar pengecut, kalau kau berani tampakkan wujudmu!" teriak Elvina yang setelah berulang kali menyerang namun terus gagal. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencoba mencari sosok Melinda yang masih belum juga bisa dilihatnya. Cermin yang pecah membuat Elvina kesulitan menemukan keberadaannya.
Sial, aku benar-benar tidak bisa melihat wujudnya sama sekali, batin Elvina.
Brukk!
Mendadak ia merasakan tengkuknya di pukul keras oleh sesuatu dari arah belakang.
Elvina tersungkur di lantai dengan posisi tengkurap. Ia meringis menahan sakit yang dirasakannya.
"Kau tidak akan bisa lolos dariku begitu saja." Melinda menampakkan wujudnya.
Elvina berbalik, dan kini ia bisa melihat Melinda yang berdiri dihadapannya. Posisinya tidak terlalu jauh dari tempatnya berada.
"Saatnya untuk membawamu pergi." Melinda menyeringai.
...*...
Leon melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
Kenapa dia belum juga kembali? Apakah dia sembelit? Tapi tidak mungkin selama ini. Sudah hampir dua jam dia tidak kembali semenjak aku berbincang dengan manajer di sini. Apakah jangan-jangan dia melarikan diri? Atau terjadi sesuatu dengannya di toilet? Sebaiknya aku mengecek keadaanya untuk memastikan keadaannya. Leon beranjak dari tempat duduknya ketika resah semakin membuatnya tak tenang. Ia bergegas pergi menuju toilet yang letaknya di ujung koridor di sebelah kiri.
Tiba di sana, Leon segera menggedor pintu toilet begitu sadar pintu itu tertutup. Leon berteriak memanggil Elvina yang menurut instingnya masih berada di dalam sana.
...*...
Elvina menggerakkan tangannya tak ingin diam saja dan berakhir dalam cengkraman Melinda.
Serangan Elvina meleset ke arah cermin yang dalam sekejap membuat cermin itu semakin hancur. Melinda menghilang, Elvina tak dapat melihat wujudnya sampai kemudian lehernya kembali di cekik dari belakang oleh Melinda yang bergerak cepat.
Elvina memberontak berusaha membebaskan dirinya, sialnya tenaganya terus terkuras akibat pertarungannya sejak tadi yang cukup memakan banyak energi.
"Sekarang kau akan ikut denganku…" Melinda mengencangkan cekikannya.
A… aku tidak boleh berakhir seperti ini. Aku harus mencari ide agar bisa keluar. Elvina membatin, dengan posisi terdesak seperti ini Elvina berusaha memutar otaknya. Mencari ide agar bisa meloloskan diri dari Melinda.
"Elvina?" teriak Leon dari balik pintu membuat fokus mereka berdua seketika beralih pada pintu di sebelah kanan mereka.
Sial! Kenapa dia datang di saat yang tidak tepat?! Melinda mendelik penuh kesal ke arah pintu, di saat sedikit lagi ia berhasil menangkap Elvina. Kenapa harus ada gangguan seperti ini?
Leon… hanya dia yang bisa menolongku. Elvina berusaha melonggarkan sedikit cekikan Melinda pada lehernya.
"T… tolong!" Elvina mengeluarkan suaranya yang tertahan. Melinda membekap mulutnya spontan.
"Diam! Tidak akan aku biarkan kau lolos begitu saja," bisiknya. Elvina terus memberontak sementara Melinda berusaha untuk mengangkat tubuhnya, membuat Elvina berdiri.
"Hmph…" Elvina terus memberontak walau geraknya benar-benar terbatas. Elvina menahan tubuhnya, ia berpegangan pada pipa yang letaknya tak jauh di sebelah kirinya.
Melinda menarik tubuhnya paksa hal itu membuat pipa yang dipegang Elvina lepas dari sambungannya, dan air menyembur keluar membasahi tubuhnya.
"Argh…" Melinda nyaris melepaskan Elvina karena fokusnya yang teralih. "Kau benar-benar menyusahkan!" gerutu Melinda geram.
Aku harus memberikan tanda pada Leon, pikiran sesuatu Elvina! ucapnya dalam hati.
...***...