
...***...
Rei membuka kedua matanya perlahan.
Ia mengerjap sambil spontan bangun dari tempatnya terbaring. Dalam posisi duduk, ia terdiam. Dibuat bingung dengan keadaan sekeliling.
Tempat ini…
Aku dimana?
Rei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Otaknya berusaha memproses keadaan. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
"Tuan," panggil Louis yang langsung membuat Rei beralih fokus ke arah dirinya.
"Louis…" Rei menoleh pada lelaki yang terduduk di tepi ranjang itu.
"Tuan baik-baik saja?"
"Aku dimana? Dan… Elvina! Dimana dia?" Rei berubah panik saat ia sadar apa yang dilupakannya saat terbangun dari pingsannya.
"Liana dan Aland membawa tuan ke apartemen mereka."
"Apartemen? Jadi, aku di tempat mereka?"
"Betul."
"Aku harus segera mencari Elvina." Rei menyibak selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tapi kondisi tuan masih lemah. Tuan masih harus memulihkan energi, tuan."
"Tidak bisa. Tidak ada waktu untuk memulihkan energi, aku harus menolongnya sebelum terlambat." Rei baru saja menurunkan kedua kakinya.
Louis menghentikan aksinya. Mencengkram pergelangan tangan Rei sampai membuat Rei mendongak menatapnya.
"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan dengan tuan sejak kemarin. Tapi, tuan terlalu sibuk sampai tidak sempat mendengarkan ucapanku."
"Tidak ada waktu untuk mendengarkan ceritamu, Lou…"
"Tapi ini ada hubungannya dengan William."
"Apa?" Rei langsung terdiam sambil menatap Louis lekat.
"Ini ada hubungannya dengan William. Aku sudah tahu dimana Joe mengurungnya. Joe membawa William ke tempatnya, dan tempat itu masih berada di Jakarta."
"Bagaimana bisa kau…"
"Dreaworld?" Rei termangu. Ia menundukkan kepalanya.
Kenapa aku tidak pikirkan hal ini lebih awal? Aku bisa menemukan William dengan menemuinya di dalam mimpi dan memintanya memberitahuku mengenai keberadaannya, pikir Rei.
"Aku sudah berhasil menemukan keberadaan Joe. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahu tuan mengenai lokasinya. Aku sempat berpikir untuk menggunakan alat yang Joe miliki, tapi terlalu sulit. Apalagi benda itu tidak bisa terhubung dengan pengirim lokasi pintar di ponsel," gumam Louis.
"Jadi, kau tidak bisa memberitahuku dimana lokasi mereka?"
"Untuk saat ini, belum. Aku sedang mencari cara supaya tuan bisa melacak mereka."
"Tapi kau masih bisa membawaku untuk menemui mereka lewat Dreaworld 'kan?"
"Ya, aku bisa."
"Kalau begitu, bawa aku untuk menemui mereka nanti malam."
"Baik, tuan." Louis mengangguk pelan sebagai jawaban.
Ceklek!
Perhatian mereka berdua beralih ke arah datangnya suara. Spontan Rei dam Louis menoleh ke arah pintu masuk. Di ambang pintu, mereka melihat Aland yang datang.
"Aland…"
"Ternyata kau sudah siuman," gumam Aland dalam bahasa Inggris.
Lelaki itu menghampiri Rei yang terduduk di tepi ranjangnya.
"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?" Aland duduk di sampingnya setelah Louis beranjak dari sana.
"I feel better," sahut Rei.
"Good to know. Omong-omong, kau sekarang kau sedang berada di apartemenku dan Liana. Kami membawamu kemari karena kau tadi pingsan dan kami tidak tahu harus membawamu kemana, apalagi Elvina tidak bisa kami temukan," jelas Aland.
Rei tertunduk dengan wajah murung. "Dia membawanya," gumam Rei.
"What?" Aland menampakkan raut wajah bingung. "You mean?"
"Maksudku… orang yang kita temui tadi sudah membawa Elvina."
"Benarkah? Tapi, kenapa dia membawa Elvina? Apakah Elvina dan kau juga kenal dengannya?" tanya Aland yang kaget.
...***...