
...***...
Ceklek!
Pintu terbuka secara perlahan. Tidak ada yang sadar akan hal itu sama sekali. Mereka yang sibuk dengan layar monitor hanya mendengar suara tanpa pernah sadar bahwa sosok yang membuka pintu itu tak berwujud sama sekali.
Melinda melangkah ke dalam sana. Dia memanfaatkan kekuatan kamuflasenya untuk mengendap-endap ke dalam ruang kendali dengan Andrich yang juga mengubah dirinya menjadi asap agar bisa masuk.
Tiba di dalam, Melinda segera menyerang para penjaga yang ada di sana dan membuat mereka semua pingsan. Setelah memastikan mereka semua tidak sadarkan diri, ia segera mengambil alih.
Melinda mengecek layar hologram yang menjadi monitor untuk mengawasi segala tempat di laboratorium. Yang menjadi fokus mereka adalah sebuah ruangan kosong dengan dominasi warna putih. Ruangan itu jarang di kunjungi, namun menjadi salah satu ruangan paling penting yang kehadirannya sangat berarti.
Ruangannya aman. Itu artinya, kita bisa pergi sekarang. Melinda menatap Andrich. Lelaki itu tampak berusaha keras menahan diri. Wajahnya sangat memerah, dan keringat terus mengucur membasahi keningnya.
"Kita pergi!" Melinda menarik tangan lelaki itu dan segera mengubah wujudnya jadi tidak terlihat. Sedangkan Andrich kembali mengubah dirinya menjadi asap.
Mereka segera pergi ke ruangan yang tadi dilihatnya. Sebelum mereka pergi ke ruangan itu, mereka harus memastikan ruangannya dalam keadaan aman.
...*...
Melinda mendorong pintunya dan segera melangkah masuk bersama Andrich.
"Aku sudah tidak tahan…" Andrich membuka beberapa kancing bajunya. Ia benar-benar merasa tubuhnya terbakar.
"Aku mohon, bertahanlah. Kita akan segera pergi." Melinda memapah lelaki itu masuk ke dalam sebuah alat berbentuk kapsul yang letaknya berada di pojok ruangan. Ada lebih dari satu alat seperti itu di dalam sana. Tapi Melinda segera mengambil salah satunya secara acak.
Ia mengotak-atik layar hologram yang ada dihadapannya dan mulai mengatur tempat tujuan dari alat tersebut.
Di tengah kegiatannya itu, tiba-tiba saja Melinda merasakan Andrich yang tiba-tiba saja memeluknya dari arah belakang. Lelaki itu menenggerkan kepala di bahunya.
"Bertahan sebentar!" Melinda gelagapan. Bisa gawat kalau dia tidak cepat bergerak.
Setelah beberapa saat, pintu kapsul itu mulai tertutup dan layar berisi waktu pun muncul.
"Untungnya ini bukan pertama kali aku bepergian dengan mesin waktu!" Melinda tersenyum. Ia segera mengatur angka-angka nol di depan layar menjadi tanggal dan tahun tertentu di masa depan.
Klik!
Dan kapsul pun mulai bergerak. Melinda dan Andrich harus pergi ke tahun 2535 agar mereka bisa bertemu dengan Derek dari masa depan yang telah menciptakan obat penenang yang biasa Andrich gunakan.
"Aku sudah tidak tahan lagi!" Andrich tiba-tiba saja menarik Melinda dan memindahkan wanita itu ke dalam pangkuannya.
"Ahh~" Melinda terbelalak dengan ulahnya. Kini posisinya duduk di pangkuan Andrich dengan posisi membelakanginya.
Andrich menciumi tengkuknya dari arah belakang, menghirup setiap aroma harum yang keluar dari tubuh Melinda.
"Apa yang kau lakukan! Ini berbahaya, kita sedang di perjalanan." Melinda berusaha mendorong Andrich. Sialnya lelaki itu memeluknya hingga membuat Melinda tak bisa bergerak atau membebaskan diri.
"Kita lakukan satu kali saja…," bisiknya.
...***...