
...***...
Derek berjalan menyusuri koridor yang kini tampak sepi tanpa ada seorang pun evolver penjaga atau robot android yang biasa bertugas menjaga bagian koridor.
Akhirnya setelah berulang kali gagal, aku berhasil menyelinap masuk tanpa menarik perhatian orang-orang, batinnya sambil terus berjalan mengendap-endap.
Pokoknya akan aku pastikan, kali ini aku tidak akan gagal mengambil sampel serum Evolgesysv-03! Derek mengepalkan tangannya penuh keyakinan.
Ia berbelok, dirinya terkejut bukan main saat secara tidak sengaja tubuhnya nyaris saja bertabrakan dengan wanita yang berjalan dari arah yang berlawanan darinya.
S… sial! Kenapa aku harus bertemu dengan salah satu evolver penjaga! Wajah Derek berubah pucat pasi saat mereka beradu tatap satu sama lain, terlebih dalam waktu yang cukup lama.
Keduanya terdiam membatu diposisinya masing-masing. Wanita itu menatap Derek dari atas sampai bawah, tak lama ia memperhatikan wajahnya lekat. Ia menatap Derek penuh selidik.
Kenapa dia menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau dia sadar aku adalah evolver biasa? Aku harus cepat-cepat lari! pikir Derek.
"Maaf, aku tidak melihatmu." Derek bergegas meninggalkan wanita itu sendiri dan pergi ke arah yang ditujunya.
Wanita itu tidak lain adalah Melinda yang hendak pergi menemui profesor di tempatnya.
Melinda terdiam memandangi Derek dengan tingkah anehnya. Ia memperhatikan lelaki itu yang terus berjalan menjauh hingga sosoknya hilang berbelok di salah satu jalan bercabang di sana.
Bukankah dia adalah evolver biasa yang tidak seharusnya berada di sini? Tapi kenapa dia di sini? Melinda membatin.
"Ada yang tidak beres." Melinda melangkah. Ia menggunakan kemampuannya hingga sosoknya tak terlihat, ia mengikuti Derek dan terus memperhatikan gerak-geriknya yang mencurigakan.
Derek berjalan menyusuri salah satu koridor lain yang di setiap sisi kiri dan kanannya dihiasi dengan ruang isolasi yang diisi oleh beberapa evolver yang terluka.
Ruang isolasi ini, lebih seperti ruang rawat pasien di rumah sakit. Tidak ada jendela untuk memonitor mereka semua dari luar, hingga membuatnya tak dapat melihat siapa saja yang berada di dalam setiap ruangan tersebut.
"Derek." Evolab111 tercekat melihat Derek yang muncul tiba-tiba dihadapannya.
"Evolab111." Derek sama terkejutnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya tidak di sini?"
Aduh, kenapa aku harus bertemu dengannya di sini?! Derek membatin. Ia berpikir keras untuk mencari ide yang pas guna beralasan.
"A… aku… anu…" Derek terbata.
"Oh, jangan bilang kalau kau kemari untuk bertemu dengan Joe, 'kan?" Evolab111 menebak.
"Joe?" Derek mengulang, ia mengerutkan keningnya bingung.
"Iya, kau kemari karena tahu dia terluka, 'kan?"
Joe terluka? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia bisa terluka? Apakah lukanya parah, sampai-sampai dia harus dirawat di sini? Aku harap dia baik-baik saja. Derek cemas dengan keadaan lelaki yang menjadi kakaknya itu.
"Ng… i… iya, dimana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?"
"Sekarang dia sedang berbicara dengan profesor di ruangannya, kondisinya sudah mulai membaik dari sebelumnya, dia sudah mulai sehat."
"Tapi, dia kenapa? Apa yang terjadi padanya sampai dia harus di rawat di sini?"
"Joe pasti tidak bercerita padamu, 'kan?"
Derek menggeleng.
...***...