
...***...
"Tidak mungkin. Tidak mungkin Rei melarikan diri dari laboratorium."
"Kenapa tidak mungkin, Joe?"
"Profesor bahkan tidak tahu siapa kau, bahkan profesor memintaku untuk menyelidikimu. Selain itu, data dirimu sama sekali tidak terdaftar di sistem yang ada di laboratorium."
"Huh?" Elvina tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi.
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku juga tidak mengerti. Tapi yang pasti, kau sampai sekarang masih menjadi pertanyaan bagi mereka. Bagi profesor, dan tuan."
"Tidak. Aku rasa dia tahu mengenai Rei!" ujar Lucy tiba-tiba setelah ia mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.
"Memangnya kau tau apa, Liana?"
"Saat Rei di culik oleh salah satu evolver tadi pagi. Evolver itu membawa Rei ke sebuah menara, dan di sana dia meminta profesor Martin untuk datang."
"Apa?"
"Kau kenal dengan profesor?" Joe tidak menyangka kalau ternyata Lucy dan Aland juga kenal akan lelaki itu.
"Tentu saja kami kenal. Dia adalah target yang harus kami tangkap, alasan kenapa kami ada di sini sampai sekarang."
"Begitu rupanya, pantas saja kalian selalu bersama dengan Rei, Elvina dan William."
"Iya."
"Joe, bisakah kau ceritakan informasi lain yang kau punya mengenai Rei?" ucap Elvina.
"Benar. Ceritakan semua yang kau ketahui. Siapa tahu, ini bisa membantu Rei untuk ingat lagi tentang dirinya."
"Baiklah, akan aku jelaskan," kata Joe.
Ia lalu menjelaskan semua informasi yang dia miliki pada Rei dan yang lainnya. Semua informasi yang dia dapatkan dari profesor, ia beberkan pada Rei tanpa terkecuali.
...*...
Sejak melihat Rei mulai mengingat akan masa lalunya, Louis jadi merasa sedikit tidak tenang. Ia terus murung. Bukan takut Rei akan tahu semua yang dialaminya di masa lalu, tapi lebih ke takut ingatan itu akan menyakiti Rei dan membuatnya terluka.
"Aku tidak ingin sampai tuan terluka lagi…," lirihnya.
"Apa yang harus aku katakan kalau tuan sampai mengingat semuanya?"
Louis kembali terdiam sambil memandangi tanaman dihadapannya. Sesekali ia melihat tanaman itu berkilau seperti ada permata di antara tanaman itu.
"Tapi, sepertinya memang tidak ada jalan untuk mundur. Aku harus menjelaskan semuanya pada tuan, dan mungkin memang ini sudah saatnya tuan tahu segalanya tentang masa lalunya."
Louis…
Suara Rei mendadak terdengar di telinganya. Suara yang menandakan bahwa Rei sedang mencari, dan memintanya untuk segera datang ke tempatnya berada.
Tuan memanggilku, pikirnya. Louis memejamkan kedua matanya lalu dengan kemampuan teleportasinya, ia berpindah dari tempatnya sekarang ke tempat dimana Rei berada.
Rei membuka kedua matanya dan mendapati Louis yang kini berdiri dihadapannya.
"Tuan…"
"Aku mencarimu sejak tadi. Kau darimana saja?"
"Maaf, aku pergi tanpa memberitahu tuan. Aku ingin menenangkan diri. Rasanya aku tidak kuat melihat tuan seperti tadi. Oh ya, bagaimana keadaan tuan sekarang?"
"Aku sudah baik-baik saja."
"Syukurlah." Louis tersenyum simpul. Ia sungguh merasa lega mendengar Rei yang ternyata sudah merasa lebih baik.
"Omong-omong aku ingin meminta bantuanmu."
"Apa yang bisa aku bantu, tuan?"
"Aku lihat, kau sempat menyembuhkan Liana tadi," ujar Rei.
"Iya."
...***...