
...***...
"Aku benar-benar sial sejak kedatanganku kemari. Pertama, berulang kali aku gagal menangkap Elvina, setelah itu aku juga gagal menangkap adiknya. Aku baru tahu kalau ternyata mereka sudah benar-benar menguasai kemampuan mereka, selain itu kenapa aku begitu bodoh tidak menelusuri lebih dulu kemampuan apa saja yang mereka miliki?!" Melinda menggerutu.
Melinda berjalan menyusuri jalan setapak yang kini dilewati beberapa penduduk yang mendiami daerah tersebut.
Melinda gagal menangkap William, selain itu tubuhnya dibuat lemas gara-gara harus berlari mengejar William.
Perhatian Melinda mendadak tersita oleh suara bising yang berasal dari telecosys miliknya. Ia sampai terperanjat saking kagetnya.
"Profesor, gawat. Beliau pasti ingin menanyakan perkembangan dari misiku. Aku harus bagaimana ini?" Melinda kelabakan, ia berusaha memikirkan alasan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan profesor nantinya.
Melinda berjalan menjauh dari keramaian. Ia mengambil tempat di bagian taman yang sangat sepi tanpa ada seorang pun yang mengunjunginya.
Di sana, Melinda segera mengangkat sambungan video dari profesor hingga layar hologram itu muncul dihadapannya.
"Profesor… maaf, tapi aku belum bisa me…"
"Nanti saja kau bicara, ada hal yang ingin aku sampaikan padaku mengenai misi yang sedang kau jalani ini. Bisakah kau kembali ke markas dan temui aku?" potong profesor cepat.
"K… kembali ke markas?"
"Ya. Kita bahas mengenai misi yang sedang kau jalani."
Gawat, apakah jangan-jangan profesor ingin memberhentikanku karena aku tak kunjung berhasil menangkap Elvina dan William? Melinda tampak cemas. Berbagai pikiran buruk mulai menghampirinya.
"Kau bisa, 'kan? Tidak akan lama, hanya ada beberapa hal kecil yang ingin aku sampaikan."
"Tapi, hal kecil apa yang ingin profesor bicarakan denganku?"
"Kita bicara saat kau tiba di markas."
"B… baiklah prof, aku akan segera ke sana."
Semoga saja profesor tidak mengeluarkan aku dari misi kali ini, pikirnya. Melinda beranjak pergi dari tempatnya.
...*...
Taksi yang di tumpangi oleh Leon dan Elvina berhenti di sebuah bangunan besar yang tak lain merupakan lokasi tempat dimana Leon akan bertemu dengan teman-temannya.
Setelah membayar ongkos taksi dengan beberapa lembar uang seratus ribuan, mereka segera masuk dan mencari meja yang ditempati teman-temannya Leon.
"Dimana teman-teman bapak berada?" tanya Elvina yang sejak tadi berjalan di sampingnya seraya memperhatikan Leon yang hanya diam sambil celingukan.
"Sebentar." Leon mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya dan hendak menghubungi teman-temannya. Tapi lebih dulu pesan masuk berisi pemberitahuan yang di kirimkan oleh teman-temannya. "Oh, tidak," gumamnya.
"Ada apa pak? Apakah pertemuannya batal?"
"Mereka mengundur waktu pertemuannya dan memindahkannya tempatnya, jadi tidak di sini. Mereka bilang pertemuannya di pindahkan ke jam tujuh malam di ** Club."
"Apa? Itu berarti sia-sia kita datang kemari?"
"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak menyangka kalau mereka akan mengubah waktu dan tempatnya mendadak seperti ini."
"Bagus," gerutu Elvina dengan raut wajah kesal. "Kalau begitu saya akan pulang." Elvina baru saja berbalik, Leon cepat-cepat menahan tangannya.
"Tunggu, jangan pergi dulu. Bukankah kau sudah bilang akan membantuku?"
"Tapi acaranya nanti malam. Bapak tidak perlu saya."
...***...