Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 359 - Trauma



...***...


"Kau tidak apa-apa?" tanya William memastikan. Claretta menggeleng pelan.


"Terima kasih karena sudah menolongku." Claretta berterima kasih pada ketiganya.


"Bukan masalah, lagipula kami tidak mungkin tinggal diam melihatmu dalam kesulitan seperti itu," jawab Calvin.


"Benar." Jack menimpali.


"Aku lega kau baik-baik saja." William tersenyum ke arahnya.


Claretta balas tersenyum tipis.



...*...


Bel pertanda pulang telah berbunyi. William melangkah menyusuri koridor dengan pikiran yang terus teringat akan ucapan dari Calvin dan Jack beberapa saat yang lalu saat di kantin.


Mengajaknya kencan? Claretta? pikirnya dengan kepala tertunduk. Ia melamun, terdiam seribu bahasa dengan kaki yang terus melangkah.


Calvin dan Jack sudah menunggunya di gerbang depan. Mereka akan pergi ke gedung olahraga untuk latihan sepakbola seperti biasanya.


William berpisah dengan mereka karena dirinya mendadak harus pergi ke toilet untuk buang air kecil.


"Kencan?" gumam William mengulang kata itu, yang entah kenapa terus menari dalam otaknya.


William menghela napas pelan. Kepalanya tertunduk dengan wajah murung.


Pikirannya mendadak melayang, beralih memikirkan hal lain. Ingatannya mengenai kejadian dulu mendadak terulang kembali dalam benaknya hingga membuat rasa sakit yang sempat terkubur itu, mendadak kembali menuju permukaan.


Apakah aku akan mampu memulai hubungan baru, sementara aku masih trauma dengan kejadian dulu? Aku masih ragu untuk menjalin hubungan dengan gadis lain. Setiap kali aku berusaha untuk berhubungan dengan gadis lain, aku selalu tiba-tiba dihantui olehnya, batin William.


Ah, tidak ada waktu untuk memikirkan hal seperti itu untuk sekarang. Lebih baik aku fokus pada latihanku. Sebentar lagi aku dan timku harus menghadapi pertandingan, pikirnya. William menggelengkan kepalanya pelan sembari melenggang meninggalkan koridor.


...*...


Joe diam dengan kepala tertunduk menatap pigura dalam genggamannya. Semenjak ia tahu Derek melarikan diri dan berada dalam bahaya, Joe terus saja kepikiran pada lelaki yang menjadi adik sekaligus keluarga satu-satunya itu.


Joe bahkan tidak bisa fokus pada tugasnya menangkap Elvina dan William.


"Kira-kira, bagaimana keadaanmu sekarang?" lirihnya pelan sembari menatap pada foto adiknya yang tersenyum di sana.


"Aku benar-benar cemas denganmu. Coba saja kalau saat itu, kita tidak bertengkar dan aku tetap bersamamu untuk membuatmu sadar kalau apa yang kau lakukan adalah sesuatu yang berbahaya. Ini semua pasti tidak akan terjadi. Kau pasti tidak akan sampai berakhir menjadi buronan internasional seperti ini."


Atensi Joe tiba-tiba tersita oleh suara nyaring yang berasal dari telecosys miliknya. Ia segera menekan tombol yang ada pada benda itu sampai membuat layar hologram muncul dihadapannya dan menampakkan sosok profesor yang kini menatap dirinya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau seperti ada di dalam rumah?" tanya lelaki tua itu dengan suara sedikit kesal.


"Aku sedang berusaha menyusun rencana, prof…" tutur Joe dengan suara lesu.


"Kau belum melakukan apapun untuk menangkan Elvina dan William?"


Joe menggeleng pelan.


"Joe, ingat! Aku membiarkan kau bebas karena kau harus menangani Elvina dan William. Kalau kau terus bersedih karena adikmu hilang, maka aku terpaksa harus menarikmu dan memindahkanmu kembali ke laboratorium. Biarkan aku gantikan kau dengan penjaga lain," ancamnya.


"Tolong jangan lakukan itu, prof…"


...***...