
...***...
Kedua lelaki itu saling pandang seolah memberikan sebuah isyarat pada masing-masing sebelum akhirnya mereka secara bersamaan menendang kaki Rei.
Tubuh Rei tersungkur ke belakang. Ia jatuh tepat ke atas kolam, tapi begitu jatuh. Rei merasa sedikit kesakitan karena air yang tadi memenuhi kolam mendadak berubah menjadi es ketika dia hendak berusaha menahan tubuhnya.
Brukk!
Air permukaan kolam itu menjadi es yang begitu keras. Rei tersentak menyadarinya. Ia menoleh dan menyadari airnya berubah.
Es? Bagaimana bisa airnya berubah menjadi es? Rei terdiam dengan raut wajah bingung. Tapi tak lama, dia menyadari sesuatu yang berbeda darinya. Ia melihat pantulan dirinya sendiri di permukaan es, dan Rei melihat iris matanya berubah warna dari warna sebelumnya.
Mataku… apa yang terjadi dengan mataku?
Berbagai pertanyaan bermunculan dalam benaknya.
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba kedua penjaga tadi menarik kaki Rei ke arah tepi kolam kemudian mereka memegangi tangannya dan spontan mengangkat tubuh Rei.
Brukk!
Mereka membalikkan posisi tubuhnya jadi tengkurap. Rei sama sekali tak memiliki kesempatan untuk melawan karena pergerakan mereka yang begitu cepat.
"Arghh!!" Rei meringis sambil memejamkan kedua matanya. Rasa sakit kembali dia rasakan. Namun kali ini rasanya lebih jelas dari sebelumnya, karena ia jatuh tepat di antara luka pada tubuhnya.
Kedua lelaki itu bergerak cepat memegangi tangan Rei dengan posisi ke belakang. Mereka mengangkatnya dengan sekuat tenaga.
"Sudah cukup bermainnya!" ujar lelaki itu sambil mencengkeram rahangnya.
Rei membuka mata. Beradu tatap dengan penjaga yang kini mencengkramnya. Lelaki itu menyeringai saat sadar mata Rei sudah kembali seperti semula.
"Ayo bawa dia pergi!" kata lelaki yang lain. Mereka lantas menyeret tubuh Rei pergi dari sana.
"Kalian akan membawaku kemana lagi?" teriak Rei penuh kesal.
"Kau akan tahu begitu kita tiba di sana!"
Mereka terus menyeretnya keluar. Tiba di lorong hendak kembali ke kamarnya, secara tiba-tiba salah satu telecosys milik penjaga itu berbunyi, dan mereka mendapatkan panggilan untuk membawa Rei ke laboratorium utama. Dengan sigap, mereka berdua membawa Rei ke tempat yang diminta.
"Tadinya aku pikir permainan kita akan berakhir, tapi ternyata belum. Profesor masih memberikan kita waktu untuk bermain lebih lama."
"Apa maksudmu? Apa lagi yang akan kalian lakukan padaku?!"
"Kau akan segera tahu!"
...*...
Pintu terbuka. Rei bisa melihat seluruh ruangan itu dengan jelas. Kedua lelaki tadi membawa Rei ke dalam ruang penelitian yang sangat besar.
Di dalam ruangan itu, terdapat sekitar sepuluh tabung raksasa berisi cairan serum Evolgesysv-03.
Rei terdiam dengan wajah bingung. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa mereka membawanya ke sini. Terlebih banyak sekali benda-benda canggih yang terhubung satu sama lain dan berpusat pada satu meja yang dimana meja itu terduduk di meja yang di tempati profesor.
"Prof!" Dua lelaki itu menyeret tubuh Rei ke arahnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa penampilannya seperti ini?" Profesor menatap Rei yang tampak berantakan dengan wajah terkejut.
"Dia berisik, dan kami hanya memberikan hukuman padanya seperti yang telah anda katakan."
Profesor terdiam memperhatikan Rei dari atas sampai bawah. Walaupun darah yang sempat keluar sudah mereda, tapi ia masih tampak amat berantakan.
...***...