
...***...
Brukk!
Andrich mendengar suara dari arah kamar tempat Melinda berada. Hal itu membuatnya spontan terkejut. Dengan penasaran, lelaki itu beranjak dari tempatnya dan segera berjalan menghampiri tempat dimana kamarnya berada.
Aku yakin baru saja mendengar suara dari arah kamarnya. Apa yang terjadi? Begitu tiba di kamar Melinda, Andrich terkejut mendapati wanita itu mendadak hilang dari tempatnya semula berada.
"Melinda? Kau sudah bangun?" Andrich mencoba mencari keberadaan wanita itu. Dengan mata yang mengedar ke sekeliling, dia berusaha menemukannya. Namun Melinda sama sekali tidak ada di dalam sana.
"Melinda, kau dimana? Melinda?" Andrich mulai cemas. Dia tidak bisa menemukan Melinda dimanapun. Lelaki itu berbalik hendak melangkah mencari ke ruangan lain. Namun begitu dia berbalik, Melinda sudah berada di sana dengan posisi tangan menggenggam sebuah pisau yang langsung tertancap di dadanya.
"Arghh..." Andrich mengerang kesakitan saat benda itu menusuk begitu saja tanpa peringatan.
Brukk!
Tubuhnya jatuh di lantai setelah Melinda mendorongnya dan terus menancapkan benda itu lebih dalam.
"A-apa yang kau lakukan? Kenapa kau melakukan ini padaku..." Andrich berusaha mengatur napasnya. Dia berusaha mendorong tubuh gadis itu, namun usahanya sama sekali tak berguna. Melinda sama sekali tidak bisa dia lawan, dan dia sama sekali tidak bisa menarik pisau itu dari dadanya.
"Bunuh mereka..." Melinda bergumam pelan dengan tatapan mata kosong. Hal itu membuat Andrich kebingungan. Namun dari tatapan matanya yang kosong, Andrich bisa merasakan kalau wanita itu bukanlah Melinda yang dikenalnya.
"Arghhh!" Melinda memberontak sekuat tenaga. Namun Andrich berusaha keras untuk menahannya sambil menahan rasa sakit pada dadanya yang terus mengeluarkan darah. Wanita itu memberontak dengan sekuat tenaga sampai-sampai membuat Andrich cukup kewalahan. Beruntung Andrich bisa terus bertahan sampai akhirnya Derek yang baru saja pulang berbelanja datang.
"Andrich, Melinda. Apa yang terjadi?"
"Prof! Tolong aku." Andrich meminta tolong sambil terus berjuang menghentikan Melinda dengan sekuat tenaga. Menyadari hal itu, Derek bergegas berlari menghampiri jas labnya. Menarik sebuah suntikan berisi obat bius untuk menenangkan wanita itu. Melihat Melinda yang bergerak begitu bertenaga sampai membuat Andrich kewalahan, Derek bisa langsung menyimpulkan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita itu.
Begitu mendapatkan momen yang tepat, Derek segera menusukkan jarum suntik itu dan mendorong semua obat bius di dalamnya hingga Melinda akhirnya tenang secara perlahan. Tak lama, wanita itu terkulai tak sadarkan diri. Begitu dia tak sadarkan diri, Andrich bisa menghela napas lega karena akhirnya Melinda bisa mereka tangani.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa tiba-tiba seperti itu?"
"Aku tidak tahu, prof... Tadi aku sedang berada di dapur membuatnya makanan. Tiba-tiba aku mendengar suara dari arah kamarnya dan langsung mengeceknya. Tapi dia langsung menusukku, dan berusaha keras melawan saat aku mencoba menenangkannya."
"Ada yang tidak beres."
"Arghhh..." Andrich kembali meringis saat kepala dan luka di dadanya terasa sakit.
"Astaga kau terluka. Tunggu sebentar! Akan aku obati lukamu!" Derek beranjak dari tempatnya dan segera mengambil peralatan untuk mengobati Andrich. Dia melangkah masuk ke ruang kerjanya.
...***...