Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 178 - Rival!



...***...


"Kenapa kau tidak mempercepat rencana pernikahanmu saja? Bukankah itu bagus, dengan begitu kau tidak perlu merasa kesepian lagi."


"Akan sangat sulit mengurusi acara pernikahan di tengah kesibukanku ini, lagipula dia juga memiliki kesibukan yang cukup padat di Oslo."


"Sangat di sayangkan, aku harap kalian cepat menikah agar tidak merasa kesepian lagi."


"Ya, aku doakan saja yang terbaik."


"Kalau begitu aku pamit. Aku harus segera mengirimkan hasil penelitianku."


"Baiklah, sampai jumpa di lain waktu." Nils menyalami Derek sebelum akhirnya ia melihat Derek melangkah masuk ke dalam pesawat yang nantinya akan membawanya kembali ke Jakarta.


"Aku akan merindukannya," gumam Nils pelan. Ia beranjak dari tempatnya setelah melihat Derek menghilang diantara orang-orang yang berlalu di sana.



...*...


Derek tersenyum simpul, ia menoleh keluar jendela setelah dirinya duduk dengan nyaman di dalam pesawat yang sebentar lagi akan melakukan take off.


Akhirnya, aku akan bisa memulai kembali penelitianku tanpa perlu mencemaskan ada orang yang mengetahui penelitianku. Dengan sampel serum Evolgesysv-03 yang aku dapatkan, aku pasti bisa menemukan penawar yang dapat melawannya dan mengubah pada evolver kembali menjadi manusia normal. Manusia murni tanpa kekuatan super. Derek mengepalkan tangannya erat.


...*...


Waktu berlalu. Bel pertanda istirahat baru saja berbunyi, semua orang melangkah keluar dari dalam ruang kelasnya masing-masing dan bersiap untuk menikmati waktu istirahat makan siang mereka di kafetaria sekolah.


Rei melangkah keluar dari dalam ruang kelasnya, dibelakangnya secara tiba-tiba seorang laki-laki yang tak lain teman sebangkunya, Heru. Berlari mengikutinya dari arah belakang.


"Ya." Rei mengangguk.


"Kalau begitu ayo pergi bersama. Tujuan kita juga sama."


"Boleh, kenapa tidak."


Rei berjalan beriringan bersama dengan Heru. Sepanjang perjalanan menuju kantin, Heru terus berbicara. Ia bertanya banyak hal pada Rei, sebagian besar yang dibahasnya adalah mengenai pelajaran.


Di sisi lain, Lusia baru saja keluar dari dalam ruang kelasnya. Dengan dongkolnya ia berdiri di ambang pintu, berdiri seraya bersandar pada pintu yang terbuka.


Gloria senantiasa bersamanya, gadis itu berdiri di sampingnya. Ia menatap ke arah yang dipandang sahabatnya itu.


"Jangan hanya di pandang, karena di pandang saja tidak akan membuatnya berbalik arah dan mendekatimu," bisik Gloria di telinga Lusia, menggoda sahabatnya yang kini memandang ke arah Rei yang berjalan menyusuri koridor menuju kafetaria.


Lusia mendelik ke arahnya. Ia tampak kesal, sementara yang di tatapnya hanya cekikikan melihat reaksi dari sahabatnya itu.


"Kau tahu itu, kan?!" tuduhnya.


"Tau apa?" Gloria memasang tampang polosnya.


"Kau tahu kalau kak Rei berada di kelasmu! Makanya saat aku hendak protes tadi pagi, kau tidak melarangnya dan malah membiarkan aku pergi."


"Aku benar-benar tidak tahu, sampai kau pergi dan aku membaca ulang seluruh daftar siswa yang ada di kelasku. Tapi bukankah ini bagus? Dengan adanya kak Rei di kelas, kau akan bisa mendekatinya lagi. Seperti dulu, siapa tahu kali ini kalian berhasil jadian." Gloria kembali menggodanya. Memang tak ada habisnya bagi Gloria untuk menggoda sahabatnya itu, entah sejak kapan itu menjadi hobinya. Apalagi kalau sudah menyangkut Rei.


"Biar aku tegaskan padamu! Aku dan kak Rei adalah rival!" Lusia menekan kalimatnya.


...***...