Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 136 - Memiliki hubungan spesial?



...***...


"Kau seorang chef, 'kan? Dan tugasmu adalah memuaskan pelanggan, kalau begitu bolehkah aku mencobanya? Aku ingin enam roti sobek dengan sosis mayo, dan madu agar aku bisa mengoleskannya dengan rotinya." Melinda menggigit bibir bawahnya. Tangannya bergerak mengusap dada bidang Nick, terus bergerak turun melewati perut atletisnya yang terbalut pakaian putihnya, tangannya semakin turun hingga tiba di bagian bawah perutnya.


Melinda mengusap benda yang sudah mulai mengeras di balik sana hingga membuat Nick menggigit bibirnya berusaha menahan er**gannya.


"Aku akan memberikan apa yang kau mau!" Nick mencengkeram pergelangan tangan Melinda. "Madunya ada di gudang. Aku akan mengambilkannya untukmu," tuturnya seraya menarik tangan Melinda pergi dari sana.


Wajah Nick semakin merah dengan tubuhnya yang mulai terasa panas, ia mulai kegerahan.



...*...


"Kau yakin baik-baik saja, yakin tidak perlu ke dokter?" tanya Leon pada Elvina yang kini terduduk di kursi samping kemudi.


"Saya baik-baik saja. Lebih baik kita langsung kembali ke kantor saja, lagipula bapak masih harus menghadiri meeting dengan klien, 'kan?"


"Kita akan kembali ke kantor, tapi setelah itu, aku akan mengantarkanmu pulang."


"P… pulang? Tapi saya baik-baik saja, saya masih bisa bekerja."


"Tidak dengan kondisimu seperti ini, apalagi pakaianmu basah."


Oh… ya, aku baru ingat kalau pakaianku basah, pikir Elvina seraya menunduk menatap kemejanya yang basah akibat tersembur air ketika berpegangan pada pipa hingga sambungannya lepas.


Leon menurunkan jendela mobilnya hingga membuatnya mampu melihat pria yang tak lain adalah manajer di restoran tersebut.


"Aku akan bayar semua kerusakannya, kau buat saja rincian daftarnya dan kirimkan jumlahnya padaku."


"Baik, saya akan menghubungi bapak nanti."


...*...


Leon dan Elvina mampir sebentar ke kantor untuk mengambil barang-barang milik Elvina yang tertinggal diruangannya setelah itu, Leon mengantarkan Elvina pulang ke rumahnya.


Leon menghentikan mesin mobilnya di depan pekarangan rumah Elvina yang tak lain merupakan salah satu fasilitas yang diberikannya.


Leon bergerak cepat sebelum Elvina keluar. Ia keluar lebih dulu dan membantunya untuk keluar dari dalam mobil.


"Saya baik-baik saja, pak," ucap Elvina yang benar-benar merasa tidak nyaman dengan sikap Leon yang begitu protect terhadap dirinya.


"Elvina!" Rei berlari menghampiri Elvina.


Leon dan Elvina mendongak spontan menatap ke arah datangnya suara dan mendapati remaja itu menghampiri mereka.


"Rei, sedang apa kau di sini?" Elvina menaikkan sebelah aslinya bingung saat sadar Rei ada di rumahnya.


"Aku cemas dengan keadaanmu, kau baik-baik saja, 'kan?" Rei memastikan.


"Aku baik-baik saja."


"Syukurlah." Rei menghela napas lega.


Leon yang sejak tadi merangkul tubuh Elvina hanya diam tanpa kata. Matanya menatap tajam ke arah Rei dengan tatapan tak bersahabat.


Lagi-lagi dia. Kenapa dia harus ada di sini? Dan lagi, kenapa Elvina tersenyum seperti itu padanya? Benar-benar menyebalkan, Elvina bahkan tidak pernah tersenyum ke arahku seperti itu. Siapa sebenarnya lelaki ini, kenapa mereka begitu akrab? Apakah mereka benar-benar memiliki hubungan spesial? Leon membatin. Pria itu mulai memancarkan aura cemburu yang begitu pekat, tapi diantara Rei dan Elvina tidak ada yang sadar dengan hal itu.


Rei menoleh pada Leon, ia bisa membaca pikirannya.


...***...