
...***...
"Dia sudah berubah."
"Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau mereka sudah berubah?" Luna ragu dengan keputusan yang diambil oleh Dorothy.
"Dengar, Luna. Kau tidak perlu terlalu cemas mengenai Joe dan adiknya. Kalaupun dia berulah, mereka tidak akan bisa apa-apa, karena jumlah kita lebih banyak dibandingkan mereka."
"Tapi, Dorothy…"
"Akan kupastikan, dia benar-benar sudah berubah. Jadi kau jangan terlalu cemas."
Luna menghela napas pelan sambil menyeka air mata yang sejak tadi membasahi wajahnya.
"Baiklah, aku percaya padamu," lirihnya.
Dorothy tersenyum simpul. "Aku senang mendengarnya. Terima kasih karena sudah percaya padaku."
"Tapi aku hanya memberikan satu kesempatan untuk mereka. Kalau Joe terbukti membohongi kita, maka aku tidak akan bisa memaafkannya lagi."
"Okay. Terima kasih karena sudah mau berusaha untuk percaya."
"Ya. Kalau begitu, aku pergi dulu." Luna beranjak dari tempatnya.
"Baiklah."
Luna berlalu meninggalkan Dorothy seorang diri di ruangannya.
Sepeninggalan Luna, Dorothy kembali terdiam dalam lamunannya.
Aku tahu, kau hanya cemas kehilanganku. Tapi kau tidak bisa mencegahku menolong mereka…
...*...
Pulau seberang, satu tahun yang lalu.
2019
Perhatian semua orang mendadak tersita oleh suara yang mereka dengan. Suara semacam sesuatu yang pecah.
"T… teman-teman…" Thalia, gadis paling muda di antara mereka itu bertutur dengan suara lirih.
Semuanya spontan menoleh ke arah gadis itu.
Gadis kecil itu mendongak seraya menunjuk ke arah udara. Refleks semua orang mendongak. Tatap yang dilihatnya.
Semua orang bisa melihat kubah transparan yang diciptakan Luna. Muncul lalu menghilang lagi, terus seperti itu hingga kubah perisai itu pecah.
Prang!
Semua orang membelalakkan mata melihat apa yang terjadi. Kepanikan mulai menggerayangi tubuh mereka begitu sadar kubah pelindung itu pecah.
"Gawat, kubahnya pecah!" resah Dorothy. "Ini semua terjadi, pasti karena kondisi Luna yang melemah setelah bertarung dengan para penjaga tadi."
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan?" Daisy sama cemasnya dengan yang lain.
"Para penjaga yang tadi mengejarnya pasti akan menemukan keberadaan desa kita, dan mereka akan berusaha menangkap kita." Dorothy memandang pria yang terkapar tak berdaya di dekatnya.
"Sebisa mungkin, kita harus mempertahankan desa ini!" tutur Fero penuh keyakinan.
"Keadaan sudah tidak aman, kalaupun kita tetap di sini. Mereka akan tetap menemukan keberadaan kita."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin diam saja 'kan?" Kevin angkat suara. Wajahnya panik bukan main.
Sementara mereka panik, beda hanya dengan puluhan warga lainnya yang kini tampak bingung. Mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Fokus mereka yang sejak tadi kebingungan, mendadak tersita oleh kedatangan sekelompok evolver penjaga yang berusaha mencari pria yang baru saja mereka bantu.
"Wah-wah, lihat. Ternyata para evolver yang selama ini melarikan diri bersembunyi di sini" ujar Joe yang melangkah memimpin teman-temannya di belakang.
Refleks semua orang bangkit dari posisi duduk mereka. Menatap Joe dengan raut wajah terkejut sekaligus panik saat pria itu mendadak muncul dan mengejutkan mereka.
"Ternyata kalian juga di sini? Pantas saja aku dan teman-temanku tidak pernah menemukan kalian." Joe menoleh pada Elvina, William dan Amanda yang berdiri di dekat Dorothy.
Dorothy terdiam memandang Joe tanpa kata. Tatapannya, bahkan nyaris tak berkedip.
...***...