
...***...
"Sepertinya lebih baik aku coba untuk tidur." Rei bangun dari tempat duduknya. Ia melangkah menghampiri ranjang dan berbaring di atas sana.
Kedua manik mata indahnya menerawang jauh ke langit-langit kamarnya yang dihiasi dengan stiker bintang-bintang.
"Kenapa aku tidak bisa ingat apa-apa mengenai masa laluku? Lagi-lagi aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri tanpa tahu apa jawabannya."
"Untuk sekarang… aku hanya berharap aku bisa mengingat kembali setiap kejadian di masa lalu yang pernah aku lewati, agar semua rasa penasaranku dan semua pertanyaan yang terus bermunculan di otakku bisa terjawab," gumam Rei memonolog dengan dirinya sendiri.
Rei kini diam, perlahan-lahan mulai merasa lelah. Matanya terasa berat, dan selanjutnya tertidur.
...*...
Gelap. Tidak ada hal lain yang dapat dilihatnya selain kegelapan.
Dimana aku?
Rei mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia benar-benar tidak tahu dirinya berada dimana, apalagi sekelilingnya begitu gelap.
Rei melangkahkan kakinya dengan kedua tangannya mengapung di udara, berusaha menggenggam sesuatu yang dapat menjadi pegangan serta penuntun jalan keluar dari kegelapan yang menyelimutinya ini.
Tapi gagal. Tidak ada apapun yang dapat menjadi pegangannya.
Rei terus melangkah dengan perlahan dan hati-hati, takut kalau-kalau secara tidak sengaja kakinya tersandung oleh sesuatu yang tidak bisa dilihatnya.
Dimana aku sebenarnya? Kenapa begitu gelap? Aku sama sekali tidak dapat melihat apa-apa.
Langkah Rei mendadak terhenti saat kedua matanya melihat segaris cahaya dari arah depannya.
Rei menyipitkan mata dengan sebelah tangan yang kini ia gunakan untuk meminimalisir cahaya menyilaukan yang dilihatnya.
Garis vertikal dari cahaya yang dilihatnya perlahan terlihat makin besar, dan semakin terasa menyilaukan.
Semakin besar hingga cahayanya menyinari seluruh tubuhnya. Kini teu mengangkat tangannya yang lain, ia perlu menggunakan keduanya untuk meminimalisir cahaya yang dilihatnya.
Tap! Tap! Tap!
Perlahan. Ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan dengan ritme pelan.
Rei berusaha mengintip diantara cahaya yang dilihatnya.
Kedua matanya mulai bisa menyesuaikan diri dengan cahaya terang yang dilihatnya.
Rei menurunkan kedua tangannya pelan. Ia terdiam memandangi siluet di hadapannya.
Siluet seorang pria bertubuh tinggi yang kini berjalan menuju arahnya.
Rei tidak dapat melihat siapa lelaki itu karena ia berjalan membelakangi cahaya, sehingga membuat wajahnya gelap tak tersinari cahaya.
Semakin dekat. Rei dapat melihat sosoknya saat langkah pria itu semakin dekat ke arahnya.
Rei terdiam, ia dapat melihat dengan jelas warna mata pria itu. Warnanya biru terang dan begitu indah. Matanya tampak bersinar dalam kegelapan yang menyelimuti mereka.
Rei mengerutkan kening.
Lelaki itu terus melangkah dan berdiri sekitar setengah meter dari tempatnya berdiri membatu ditempatnya.
Rei kini dapat melihat dengan jelas sosoknya dalam jarak sedekat ini. Pria itu memiliki garis rahang yang tegas, mata biru, kulit yang putih tanpa pigmen, dan rambut yang nyaris serupa dengan warna kulitnya.
Dia seorang albino. Berdiri dihadapan Rei dengan tatapan mata intens menatap tepat ke arah kedua matanya.
Mereka beradu pandang dalam waktu yang begitu lama. Rei beralih fokus. Ia memandangnya dari atas sampai bawah lalu kembali memperhatikan wajahnya.
Matanya berkaca-kaca tanpa sebab yang jelas. Hatinya terasa sakit dengan dadanya yang terasa sesak. Rei merasakan perasaan sedih.
...***...