
...***...
Lusia menelan ludah melihat Rei yang menggigit sandwich yang sedang ia nikmati.
Pikirannya mendadak kembali teringat akan kejadian di UKS, bibir itulah yang saat itu mencium bibirnya untuk pertama kali.
Bibirnya seksi, kalimat itu selalu terngiang dalam benaknya. Lusia menggeleng kuat berusaha menghilangkan pikiran itu, menendangnya jauh dari otaknya.
...*...
Hari Jumat tiba. Lusia berlari menghampiri tepi lapangan saat rasa lelah bercampur panas tak dapat ia hindarkan.
Ia duduk di bangku yang tersedia di sana guna melepas penat setelah pelajaran olahraga. Tubuhnya terasa panas dengan keringat yang mengucur deras membasahi keningnya.
"Hari ini benar-benar panas, untung saja pak Indra meminta kita untuk olahraga di gedung olahraga, kalau di luar, mungkin aku tidak akan kuat untuk menghadapi panasnya hari," gumam Lusia. Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya berusaha menyejukkan diri.
Fokus pandangannya kini tertuju pada beberapa teman-teman sekelasnya yang masih berolahraga di depan sana. Beberapa diantara mereka ada yang bermain bola voli dan beberapa bermain bola basket.
Pelajaran utama sudah selesai dan mereka di bebaskan untuk melakukan apapun yang berhubungan dengan olahraga.
Lusia yang tengah melamun, mendadak dikejutkan oleh sebuah botol kaleng dingin yang tiba-tiba menempel pada pipinya.
Ia tersentak nyaris berteriak, tapi begitu melihat siapa yang menempelkannya suaranya langsung tertahan.
"Kau sepertinya sangat kepanasan." Rei mengambil duduk di sebelahnya. Ia menyodorkan botol kaleng soda yang berada dalam genggamannya pada Lusia.
Gadis itu mendelik tak bersahabat ke arahnya. Sikap Rei sudah benar-benar membuat Lusia kesal, lelaki yang tiba-tiba jadi perhatian dan ramahnya bukan main itu membuat Lusia tak nyaman.
"Ini." Rei menyodorkan benda itu yang sama sekali tak diterima Lusia.
"Kenapa kau terus saja menggangguku? Tidak bisakah kau berhenti mengikutiku?! Kau membuatku tidak nyaman," ungkapnya terus terang.
"Aku tidak bisa melakukannya."
"Karena aku menyukaimu." Rei tersenyum ke arahnya. Lusia hanya diam tak bersuara, entah kenapa hatinya campur aduk antara senang dan ragu akan ucapannya.
"Berhenti bercanda dan jauhi aku!" Lusia bergeser menjauh dari Rei, namun lelaki itu tak tinggal diam. Ia menggeser ke arah Lusia dengan botol yang masih berada dalam genggamannya. "Arghh! Sudah aku bilang berhenti mengikutiku!"
"Aku tidak mau." Keukeuh Rei. Lusia mendengus kesal mendengar kalimatnya.
"Bagaimana caranya agar kau mau menuruti perintahku?!"
"Menuruti perintahmu?" Rei mengulang, ia terdiam sejenak sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya pada teman-temannya yang sedang bermain basket. "Ayo bertanding basket. Siapa yang kalah, harus mengabulkan permohonan yang menang."
"Tidak!" Tolak Lusia cepat.
"Kenapa? Bukankah kau bilang ingin aku mengikuti perintahmu?"
"Kau pandai dalam bermain basket! Aku tidak mau."
"Kalau begitu kau yang tentukan."
Lusia terdiam sejenak.
Jika memang ini satu-satunya cara agar dia mau berhenti mengikutiku, maka aku harus memilih permainan yang peluang kemenangannya lebih besar untukku. Tapi apa? Lusia membatin, otaknya mulai berpikir mencari olahraga yang sekiranya sangat ia kuasai.
"Renang!" Setelah terdiam beberapa saat akhirnya ia menjawab.
"Renang? Baiklah, ayo bertanding."
"Tapi ingat kesepakatan kita! Yang kalah harus mengabulkan permohonan yang menang!"
"Okay!"
Lusia tersenyum simpul, kali ini ia sangat yakin kalau dirinya akan menang. Pasalnya Lusia jago dalam berenang.
...***...