
...***...
"Aku dengar adikmu akan di kirim ke Indonesia," ujar Nils yang berhasil membuyarkan lamunannya.
Joe menoleh ke arah sang empu yang baru saja berujar.
"Nils?"
Pria itu menghampiri Joe dan berdiri tepat di sampingnya.
"Kau tahu? Setiap evolver yang berada di sini, telah sempurna dan profesor sudah mulai memberikan setiap tugas untuk mereka. Ini sudah saatnya mereka di lepaskan."
Joe menghela napas pelan sambil menatap lurus ke depan.
"Yeah, kau benar. Kau juga akan segera pergi, 'kan?"
"Yup. Dan sepertinya aku akan satu kapal dengan Derek."
"Derek?" Joe menaikkan sebelah alisnya.
"Kau belum dengar? Derek akan di kirim ke Indonesia untuk tugasnya."
"Apa? Itu artinya…"
"Kau tidak akan bisa bersama adikmu lagi," potong Nils.
"Kalian akan berpisah, dan harus menjalani tugas masing-masing."
"Yang kau katakan ada benarnya juga…" Joe tertunduk dengan wajah murung.
"Kau sedih?"
"Tentu saja. Dia adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki, dan kalau kami berpisah, itu artinya tidak ada orang yang akan melindunginya. Apalagi kalau dia terpisah dariku."
"Jangan terlalu mencemaskan dia." Nils merangkul pundak Joe.
"Dengar! Derek itu sama-sama evolver biasa sepertiku, dan profesor memberikannya dua kemampuan berbeda untuk melindungi dirinya dan membantu kehidupannya. Jadi kau tidak perlu terlalu mencemaskan dia," kata Nils.
"Huft~" Joe menghela napas pelan untuk kedua kalinya, lalu berkata, "mungkin kau benar, aku tidak perlu terlalu mencemaskannya…"
...*...
"Selamat, karena kau akhirnya keluar dari sini." Joe tersenyum sambil menyodorkan tangan ke arahnya.
Derek tersentak dan refleks menoleh ke arahnya yang datang secara tiba-tiba.
Derek terdiam, menghiraukan sodoran tangan dari Joe tanpa berpikir untuk menjabatnya.
Joe menarik tangan adiknya dan memaksanya untuk berjabat tangan. Ia lalu tersenyum.
"Terima kasih," lirih Derek pelan.
"Aku dengar kau akan di kirim ke Indonesia. Tapi, kenapa wajahmu terlihat tidak senang, padahal sebentar lagi, kau 'kan akan keluar dari laboratorium?" Joe menatap adiknya dengan wajah bingung.
"Aku senang karena bisa keluar dari sini dan pergi ke dunia luar. Tapi… aku juga sedih karena harus berpisah denganmu."
Joe terdiam menatap Derek yang kini menampakkan raut wajah murung.
"Aku tidak ingin kita berpisah. Kupikir kita akan keluar bersama seperti awal kita memijakkan kaki kita di tempat ini. Tapi ternyata, malah sebaliknya. Aku malah keluar tanpa dirimu."
"Tidak perlu murung. Aku yakin, aku juga akan menyusulmu keluar dari sini. Tapi mungkin tidak sekarang." Joe berusaha menenangkan adiknya.
"Tapi bagaimana kalau kita tidak akan pernah bertemu lagi?"
"Itu tidak akan terjadi. Karena…" Joe melepaskan telecosys yang diberikan profesor padanya.
"…Walaupun kita berjauhan, kita akan tetap bisa berkomunikasi. Dengan ini." Ia menyodorkan telecosys nya pada Derek.
Derek terdiam menatap telecosys yang di berikan Joe.
"Ambil ini agar kita selalu terhubung."
"Jika aku mengambilnya, lalu bagaimana aku bisa berkomunikasi denganmu?" tanya Derek.
"Kau pakai saja milikku. Profesor akan memberikan telecosys baru padaku kalau tahu milikku hilang. Jadi akan kukatakan bahwa telecosys ku hilang. Dengan begitu, kita akan bisa terus berkomunikasi."
Joe menaruh telecosys di tangannya pada telapak tangan Derek dan memintanya untuk menggenggam benda itu.
"Peganglah agar kita bisa berkomunikasi."
...***...