Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 462 - Gelap tanpa cahaya



...***...


"Kerja bagus. Kalian boleh kembali, dan sebagai gantinya karena kalian sudah berhasil membawa Lusia kemari, kalian bebas dari tugas."


"Baik, tuan." Melinda membungkuk.


"Kami permisi." Andrich dan Melinda berbalik siap untuk melangkah, tapi lebih dulu profesor menghentikan keduanya.


"Tidak denganmu Melinda!" katanya yang dalam sekejap membuat langkahnya terhenti.


Melinda dan Andrich menoleh padanya yang baru saja berujar


"Jangan lupa kalau kau masih memiliki tugas."


"Oh… benar. Aku masih harus menangkap…"


"Memangnya kau menugaskan Melinda untuk menangkap siapa?" Tuannya menolah pada Melinda dan profesor bergantian.


"Itu…" Melinda bingung harus menjelaskan apa.


"Rei. Melinda di beri tugas untuk menangkapnya." Andrich menyahut.


Profesor membulatkan mata. Ia tidak percaya Melinda menjelaskan tugasnya pada evolver lain.


Melinda menunduk dengan wajah takut.


"Kau menugaskan Melinda untuk menangkapnya?" Tuannya menoleh ke arah profesor.


"Biar aku jelaskan, aku belum jelaskan masalah ini padamu karena…"


"Kau hanya ingin memastikannya lebih dulu 'kan? Aku tahu itu," potong tuannya.


"Bagaimana kau bisa…"


"Kau tidak perlu cemaskan mengenai Rei. Dia akan datang kemari dengan sendirinya," potongnya lagi.


"Bagaimana kau bisa yakin?" Profesor menampakkan raut wajah bingung.


Pria itu menoleh ke arah Lusia yang masih tak sadarkan diri dihadapannya.


"Karena Lusia ada di sini," gumamnya.


"Lusia? Apa hubungannya dengan dia?" Profesor tak mengerti.


"Lusia adalah kekasihnya. Kekasih dari Rei."


"Jadi kita tidak perlu mengkhawatirkan tentang Rei. Karena dia akan datang dengan sendirinya untuk menyelamatkan Lusia. Dan di saat itu, kita akan menangkapnya. Lebih baik kau pantau tugas Joe. Lelaki itu masih belum berhasil menangkap Elvina dan William."


Profesor terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Rei masih ada kaitannya dengan Lusia.



...*...


"Lebih baik sekarang kau pulang, Rei," ujar Elvina begitu mereka tiba di rumahnya.


"Aku akan menemanimu di sini. Aku ingin memastikan kau baik-baik saja."


"Kau tidak perlu cemaskan aku. Aku baik-baik saja, lebih baik kau pulang. Aku tidak ingin kalau tante Isyana sampai mencarimu dan memarahiku karena kau tidak pulang. Lagipula, aku tidak ingin sampai tante Isyana sampai bertanya-tanya alasanmu menginap di sini dan ujung-ujungnya dia tahu kalau Will hilang."


"Tapi bagaimana denganmu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri dalam keadaan seperti ini."


"Aku baik-baik saja, jadi pulanglah. Kita lanjutkan pencarian besok."


"Kau yakin?"


Elvina mengangguk pelan sebagai jawabannya.


Rei menghela napas pelan, lalu berkata, "baiklah kalau kau berkata begitu. Aku akan pulang. Tapi kalau ada apa-apa, segera hubungi aku."


"Okay."


Rei beranjak bangun dari tempat duduknya. Meraih tasnya dan segera pulang ke rumahnya untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan pencarian.


Siang sudah berganti malam. Dan Rei sejak tadi sudah di telpon terus menerus oleh Isyana yang menanyakan keberadaannya.


Walaupun bicara dengan nada ketus, tapi Rei tahu ibunya masih selalu mencemaskannya ketika ia pulang terlambat.


Rei melajukan motornya menyusuri jalanan malam.


Langit kala itu gelap. Hanya ada awan putih yang bergerombol dan terus bergerak mengikuti angin yang berhembus.


Bukan hanya Elvina atau Rei, bahkan langit tahu apa yang sedang mereka rasakan saat salah satu di antara mereka hilang.


Kekosongan. Bagaikan malam tanpa bintang, dan gelap tanpa cahaya.


Pikiran Rei penuh dengan William dan Lusia yang hilang.


...***...