
...***...
Harry terdiam. Dorothy sudah menceritakan semua masalahnya sambil terisak. Wanita itu tampak sangat sedih dengan situasi yang dialaminya. "Aku sungguh tidak bisa tinggal diam. Aku harus segera membawa mereka kembali..."
"Aku tau, tapi kondisimu tidak memungkinkan, dan lagi memangnya kau tahu kemana suamimu itu membawa mereka?" Dorothy terdiam. Satu-satunya yang terlintas di benaknya saat mendapati pertanyaan Harry barusan adalah tempat yang sama dimana dia menyaksikan Lusia tewas.
"Begini saja. Lebih baik kau pulihkan dulu kondisimu, dan tenangkan dirimu agar kau bisa berpikir jernih. Kalau perlu kau bisa panggil seseorang untuk menemanimu di sini agar kau bisa merasa lebih tenang," sarannya. Satu-satunya orang yang muncul di kepala Dorothy hanyalah Tiana. Wanita yang menjadi sahabatnya itu selalu bisa dia andalkan dalam segala situasi, sekalipun situasi terburuk seperti sekarang.
"Bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menghubungi Tiana."
"Tiana? Tentu." Harry menyodorkan ponselnya pada Dorothy. Beruntung lelaki itu dulu sempat menyimpan nomor Tiana saat dia diundang untuk menjadi juru bicara di salah satu acara kesehatan yang lokasi syutingnya adalah di studio gedung tempat Tiana bekerja.
"Halo?"
"Tiana..."
"Dorothy? Syukurlah akhirnya kau mendengarmu..." Tiana di seberang sana terdengar sangat lega begitu mendengar Dorothy.
"Aku butuh bantuanmu. Bisakah kau datang ke sini? Aku di rumah sakit tempat Harry bekerja, kau tahu kan?"
"Kau di rumah sakit? Ya, aku tahu. Aku akan segera ke sana sekarang juga! Tunggu aku!" Tiana terdengar panik. Sambungan telepon mereka langsung terputus, dan Dorothy kini hanya perlu menunggu wanita itu sampai di rumah sakit tempat Harry bekerja.
"Dia bisa kau hubungi?"
"Syukurlah. Kalau begitu aku pergi dulu, aku masih harus mengecek pasien lain. Ponselnya kau pegang saja dulu untuk menghubungi Tiana. Aku akan membawanya nanti."
"Baik. Terima kasih."
...*...
Hari berlalu, sejak kecelakaan itu. Tiana datang untuk menemaninya semalaman. Dorothy jadi harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Walaupun dia sangat ingin sekali keluar dan segera mencari kedua putranya. Namun Tiana dan Harry terus menahannya. Meminta Dorothy untuk fokus pada kesehatannya terlebih dahulu. Usia kondisinya membaik, Harry segera mengurus kepulangannya. Dorothy akhirnya keluar dari rumah sakit dan pulang dengan diantar oleh Tiana dan Rivanno.
Begitu tiba di rumah, Dorothy hanya bisa terisak mengingat kedua putranya tidak ada di sana. Wanita itu begitu hancur menghadapi kenyataan yang terasa begitu menyakitkan untuknya. Hubungannya dengan Cato hancur, selain itu kini kedua putranya di rebut secara paksa dari tangannya. Dorothy hanya bisa memandang barang-barang putranya sambil menangis. Ini adalah mimpi buruk terburuk yang pernah Dorothy alami. Seandainya ini semua adalah mimpi, maka dia ingin segera bangun dari mimpi buruknya. Sayangnya, semua yang dihadapinya adalah kenyataan paling pahit dalam hidupnya.
Tiana dan Rivanno yang menyaksikan betapa hancurnya wanita itu tidak mungkin diam saja. Tiana memutar otak, berusaha mencari cara untuk membantu sahabatnya menghadapi semua ini. "Kita harus membantunya."
"Bagaimana kita bisa membantunya?"
"Bagaimanapun caranya, yang terpenting kita berusaha dan berniat untuk membantunya." Tiana berjalan menghampiri tempat dimana wanita itu menangis. Dia berada di dalam kamar putranya. Tiba di dalam, Tiana segera menghampiri wanita itu dan merangkul pundaknya.
...***...