
...***...
"Tunggu aku," ujar Rei sambil berusaha mengejar salah satu di antara mereka yang terus berlarian di antara besarnya badai.
Walaupun Louis bisa merasakan badai itu dengan sangat jelas, beda halnya dengan Rei dan yang lainnya. Mereka sama sekali tak terpengaruh dengan keadaan sekeliling.
Louis masih berusaha keras untuk menghampiri anak laki-laki itu. Tapi entah kenapa, tubuhnya seolah bergerak dalam mode lambat. Membuatnya harus memakan waktu lebih banyak guna bisa sampai ke tempat dimana Rei berada.
Di sisi lain, Louis melihat Rei berhenti berlari.
Elvina dan yang lainnya seolah lenyap begitu saja, sama seperti ibunya yang tadi juga menghilang entah kemana.
Rei terdiam saat ia melihat seorang anak laki-laki yang usianya lima tahun lebih tua darinya. Ia memandangi anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu berdiri dengan posisi membelakanginya.
"Kakak!" Rei tersenyum simpul begitu sadar siapa yang dilihatnya. "Aku dan yang lain sedang bermain kejar-kejaran, ayo main bersama…"
Brukk!
Anak laki-laki itu berbalik dan langsung mendorong tubuh Rei hingga tersungkur di pasir. Rai terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan.
Anak laki-laki itu menatap Rei dengan raut wajah kesal.
"Aku tidak mau bermain denganmu! Aku benci kau. Gara-gara kau, mama dan papa jadi lebih menyayangimu dibandingkan aku?!"
"Kakak…"
"Lebih baik kau tidak pernah ada di dunia ini!" Anak laki-laki itu berbalik dan melangkah meninggalkan Rei seorang diri.
Rei terduduk sambil menangis.
Kenangan-kenangan ini… Louis merasakan dadanya bertambah sesak. Ia melihat anak laki-laki itu terduduk sendirian di sana sambil menangis.
Semakin Louis berjuang untuk melangkah, badai pasir yang dihadapinya semakin besar. Tapi hal itu tak membuat Louis menyerah. Ia masih terus berjuang untuk menghampiri anak laki-laki itu.
Ia harus menyelamatkan Rei, dan membawanya pergi dari tempat ini.
"Sudah berapa kali mama bilang, jangan main terus?!"
Adegan itu kembali berubah. Louis melihat Rei yang kembali bertambah besar. Sekarang ia terlihat seperti anak berusia delapan atau sembilan tahun.
Setiap adegan berganti dan setiap kenangan Rei berubah, Louis semakin merasa dadanya sesak. Ia juga melihat ekspresi wajah Rei yang semakin sedih dan murung.
Brukk!
Louis kembali terjatuh. Ia mendongak dan menatap Rei yang kini tubuhnya sudah seperti anak SMP. Ia berdiri seorang diri dengan kepala tertunduk dan wajah murung.
Louis menatap punggung anak laki-laki itu. Dari tempatnya berada, Louis bisa melihat aura kesepian dari dirinya. Bukan hanya bisa melihat, bahkan Louis bisa merasakan bahwa aura itu semakin pekat. Pertanda bahwa Rei telah jatuh terlalu dalam pada rasa kesepian itu.
Air matanya semakin tak bisa di bendung.
Tuan…, bertahanlah. Aku akan membebaskanmu…
Aku, tidak akan membiarkanmu merasakan semua itu lagi…
Louis bangkit dengan tertatih. Ia mulai berlari menuju ke arah Rei. Dengan susah payah, Louis menerjang semua badai yang menghadang hingga akhirnya dia berhasil tiba di tempat Rei berada.
Grep!
Louis memeluk Rei dari arah belakang. Anak yang sedang tertunduk sambil menangis itu hanya bisa diam begitu Louis memeluknya.
"Aku berhasil menangkapmu…"
"Tenanglah, ada aku di sini. Aku akan membebaskanmu dari semua penderitaan ini…" gumamnya sambil menangis.
...***...