Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 657 - Meredith



...***...


Tring!


Suara dering ponsel membuat fokusnya beralih. Lelaki itu menoleh ke arah meja dimana ponsel genggam miliknya tergeletak dengan suara nyaring yang membuatnya bergetar hebat.


Lelaki itu beranjak menghampiri meja dan meraih ponselnya. Sebelum benar-benar menerima panggilan telepon yang baru saja masuk, dia mengecek terlebih dulu siapa yang berusaha menghubunginya di pagi-pagi begini.


Di sana tertulis nama wanita yang sangat dicintainya. Wanita yang juga tidak lain adalah ibu dari anak-anaknya.


Pria itu menekan tombol yang ada. Segera menerima panggilan masuk tersebut.


"Halo!"


"Morning darling! Kau sudah bangun?" Suara lembut dari seberang sana di dengarnya.


"Ya, aku baru saja bangun dan sekarang sedang menikmati kopiku."


"Benarkah? Kau sudah sudah sarapan?"


"Belum, mungkin sebentar lagi."


"Jangan melewatkan sarapan! Apalagi hari ini kau harus melakukan perjalanan kan?"


"Iya."


"Omong-omong kau tidak lupa dengan janji hari ini kan? Kita harus ke bandara untuk menjemput Meredith."


"Aku tidak lupa. Tenang saja. Sebentar lagi aku juga akan berangkat dengan kereta pagi."


"Kalau begitu haruskan aku dan anak-anak menunggumu di stasiun?"


"Tidak perlu, kita bertemu di bandara saja. Aku tidak ingin membuang lebih banyak waktu."


"Baiklah, sampai jumpa nanti."


Sambungan telepon mereka lantas di putus. Usai berbicara di telepon dengan istrinya, dia bergegas mengganti pakaiannya. Hari ini dia harus berangkat ke London dengan kertas pagi. Dia sudah memiliki janji untuk menjemput Meredith, anak dari kakak angkatnya yang akan datang ke Inggris untuk kepentingan kerja.



...*...


Dia mempercepat langkahnya begitu melihat sosok yang tengah dicarinya. Di sana, dia telah melihat tiga orang yang dikenalnya. Istri dan kedua anaknya.


"Papa!" Kedua anak itu berlari menghampirinya yang baru saja tiba.


"Hai sayang!" Pria itu membungkuk, memeluk kedua putranya yang langsung menghampirinya dan segera menempel. Mereka berdua memeluk erat tubuh Cato, melepaskan rasa rindu yang terbendung.


"Papa datang juga?"


"Tentu saja, papa sudah janji untuk datang juga kan?"


"Aku rindu papa..." Anak laki-laki paling kecil itu memeluknya.


"Papa juga merindukan kalian, sayang.."


Perhatiannya beralih pada wanita yang menjadi istrinya. Seperti pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh selama ini, mereka juga saling melepaskan rindu satu sama lain.


Setelah semua itu, mereka lantas memutuskan untuk pergi ke tempat dimana mereka akan menunggu kedatangan Meredith dengan keluarganya.


Mereka menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya Meredith tiba bersama dengan keluarganya. Begitu wanita itu tiba, mereka segera pergi dari bandara.


...*...


"Aku benar-benar minta maaf karena harus merepotkan om dan tante," gumam Meredith yang kini duduk di jok belakang bersama dengan suami dan putrinya.


"Benar, kami sungguh merasa tidak enak karena harus merepotkan kalian." Pria yang menjadi suaminya menimpali.


"Jangan sungkan begitu, kita ini kan keluarga. Sudah seharusnya kita saling membantu, lagipula sekalian mumpung kalian di London juga," ujar Cato. Ia melirik Meredith sekilas sebelum akhirnya kembali fokus mengendarai mobil yang tadi digunakan istrinya untuk berangkat ke bandara.


Sepanjang perjalanan mereka membicarakan banyak hal. Mengenai rencana Meredith tinggal di London berapa lama dan sebagainya.


Walaupun Meredith dan Cato adalah keponakan dan paman, tapi keduanya hanya terpaut usia beberapa tahun saja. Tidak seperti keponakan dan paman pada umumnya.


...***...