Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 168 - Pembohong



...***...


"Aku tidak ingat apa-apa!" ujar Rei mengucapkan yang sesungguhnya. Tak lama, Sandy dan Isyana melangkah menuruni tangga. Menghampiri kedua anaknya yang tengah berdebat di bawah sana.


"Mengaku saja! Lagipula semuanya sudah terbongkar, dan kau tidak perlu berpura-pura lagi!" Samuel keukeuh dengan tuduhannya.


"Rei…" Sandy menepuk pundaknya. Rei beralih fokus pada ayahnya yang baru saja tiba.


"Lebih baik kau mengaku sayang, papa dan mama janji tidak akan marah padamu." Isyana angkat bicara.


Rei shock dengan apa yang baru saja di dengarnya. Keluarganya kini menatapnya intens, menyudutkannya dan memintanya untuk mengakui yang bahkan sama sekali tidak ia lakukan.


"Aku tidak ingat apa-apa! Dan aku tidak berpura-pura, kenapa kalian semua tidak percaya denganku?!" Rei menekan kalimatnya.


"Semua buktinya sudah ada di tangan kami! Kenapa kau terus mengelak!" Samuel mulai kesal dengan adiknya yang tak ingin mengakui kebohongannya.


Napas Rei mulai tak beraturan, dadanya terasa sesak dengan matanya yang mulai memanas. Rei berusaha menahan amarahnya yang sudah mencapai ubun-ubun kepalanya.


"Aku tidak mengerti dengan kalian. Kalian bilang, kalian adalah keluargaku tapi tidak ada yang percaya dengan ucapanku." Rei berusaha menahan sesaknya. Hatinya benar-benar terasa sakit dipojokkan seperti ini.


"Bagaimana kami bisa percaya kalau kau saja berbohong?" Samuel membalas kalimatnya.


"Mama benar-benar kecewa padamu, Rei. Kenapa kau tidak mau mengakui kebohonganmu, dan kenapa kau berubah? Dulu kau adalah anak yang tidak pernah berbohong dan selalu berkata jujur pada papa dan mama, tapi kenapa sekarang kau berbohong dan berpura-pura amnesia? Kenapa kau melakukan semua itu?" Isyana menatap Rei penuh rasa kecewa.


Hatinya semakin sakit, Rei berusaha menahan air matanya yang sejak tadi berusaha menerobos melewati pelupuk matanya.


"Aku heran. Kalian bilang, kalian adalah orang tuaku. Tapi kalian tidak bisa membedakan mana perkataan yang benar dan bohong dari anak kalian sendiri."


Isyana, Sandy dan Samuel terdiam. Samuel tak habis pikir dengan adiknya, sementara Sandy dan Isyana terdiam tak berkata-kata. Ucapan Rei barusan begitu menusuk keduanya. Mereka benar-benar terkejut dengan ucapan menohok dari Rei yang begitu kena tepat sasaran.



...*...


Blam!


Rei menutup pintu kamarnya kasar. Ia bersandar pada pintu yang kini tertutup dibelakangnya.


Kalau aku memang benar anak mereka, lalu kenapa aku tidak bisa ingat apa-apa? Kalau aku tidak amnesia, lalu kenapa aku tidak bisa ingat tentang mereka? Kenapa? Kenapa aku tidak bisa ingat? Tanpa Rei sadari air matanya sudah membasahi kedua pipinya. Menggenang diantara kulit mulusnya.


Rei merosot terduduk di lantai. Ia menjambak rambutnya keras.


Ayo, ingatlah! Ingatlah kembali semuanya, setidaknya berikan aku sedikit ingatan tentang masa laluku! Rei semakin keras menjambak rambutnya sendiri.


Mau seberapa keras pun ia menjambak rambutnya, atau melukai kepalanya. Tetap saja, otaknya enggan untuk memproses kembali ingatannya yang terjadi di masa lalu.


Rei tak bisa ingat apa-apa. Ia mulai frustasi dengan segala usahanya. Kini Rei terbaring di lantai, meringkuk dengan kedua tangannya yang masih meremat rambutnya kencang.


"Ingatlah sesuatu, aku mohon. Setidaknya sedikit saja," lirihnya pelan. Rei benar-benar tidak pernah membayangkan kalau mereka akan menuduhnya sebagai seorang pembohong seperti tadi.


"Ingatlah…"


...***...