
...***...
"Sepertinya aku harus pergi sekarang. Bel baru saja berbunyi, dan aku masih memiliki urusan lain," ujar gadis itu.
William beralih pandang sejenak padanya. "Ya, baiklah."
"Kalau begitu aku permisi."
"Ya."
Gadis itu beranjak meninggalkan William seorang diri di dalam ruang UKS yang sepi.
William terdiam memandangi punggungnya yang terus bergerak menjauh hingga akhirnya hilang dibalik pintu masuk.
"Oh!" William baru menyadari sesuatu. Ia bergegas berlari menuju arah pintu dan menatap ke arah dimana gadis itu berbelok. "Hey! Siapa nama… mu. Dia sudah pergi? Sayang sekali, padahal aku ingin tahu namanya," bisiknya pelan.
Wajah William berubah murung saat ia tak berhasil mendapatkan namanya.
Drrrtt…
Ponselnya kembali bergetar. William menatap benda dalam genggamannya itu dan melihat pesan yang baru masuk. Pesan dari orang yang sama.
Calvin:
Kau dimana? Kami sudah mencarimu sejak tadi! Jawab! Jangan hanya di baca!
William menghela napas pelan. Ia kemudian mengetik sesuatu di layar keyboard ponselnya dan membalasnya.
William:
UKS
William segera memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya. Ia lalu kembali masuk ke dalam UKS dan duduk sejenak untuk memulihkan energinya yang masih belum pulih sepenuhnya.
...*...
"Bagaimana? Dia membalas?" tanya Jack yang sejak tadi menunggu kabar dari Calvin.
"Ya, dia menjawab."
"Benarkah? Dimana dia sekarang?"
"Will bilang dia sedang berada di ruang UKS."
"Tentu saja dia mengunjungi ruang UKS karena dia sakit! Kau ini bagaimana! Sudahlah, ayo pergi dan temui dia."
"Iya."
"Oh, bawakan juga tasnya!" Calvin menunjuk tas William di dekat meja yang Jack tempati.
Jack menarik tas William lalu beranjak bersama Calvin meninggalkan ruang kelasnya untuk menjenguk William di UKS.
...*...
Rei melangkah memasuki ruang UKS yang kini diisi oleh Lusia, Gloria dan Heru yang duduk di kursi yang ada.
Rei membawa satu kantong plastik berisi makanan dan minuman yang ia beli dari kantin untuk Lusia.
"Ini. Aku membawakan beberapa makanan dan minuman untukmu. Kau hanya makan siang sedikit 'kan tadi?" Rei menyodorkan kantong plastik di tangannya pada Lusia.
"Terima kasih." Lusia meraih kantong plastik yang disodorkannya. Lusia sama sekali tidak berani untuk beradu tatap dengan Rei.
Setiap kali melihat atau mengingat Rei, wajahnya selalu merona membayangkan kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu.
"Kau kenapa? Lihat, wajahmu lagi-lagi merah." Gloria dengan polosnya menunjuk wajah sahabatnya.
"A… aku tidak apa-apa. Sudah aku bilang di sini sangat panas!" Lusia berucap ketus. Ia bergegas menyibukkan diri membuka belanjaan Rei dan mencari sesuatu untuk diminumnya.
Lusia mengambil beberapa minuman kaleng, ia mengambil salah satunya lalu meneguknya. Sementara sisanya, ia berikan pada Heru dan Gloria.
Rei mengambil duduk di tempat yang sedikit jauh dari Lusia. Ia duduk di dekat Gloria yang bersebelahan dengannya.
"Rei, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Lusia bisa tiba-tiba tidak sadarkan diri?" tanya Gloria begitu ia duduk di sebelahnya.
"Ya, ceritakan semuanya pada kami." Heru menimpali.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi, tapi saat aku melihat Lusia di taman. Dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri." Rei beralasan.
"Benarkah?"
Rei menganggukkan kepalanya pelan, meyakinkan Gloria dan Heru bahwa ucapannya benar.
"Tapi kenapa bisa?"
...***...