Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 682 - Mayat Lusia



...***...


Proses kembali berlanjut, dan Dorothy menyaksikan sendiri satu persatu anak itu tewas dengan mata kepalanya sendiri. Dari lima, hanya Lusia yang tersisa dan prosesnya masih terus mereka lanjutkan, sampai akhirnya kejadian yang sama terulang kembali. Mereka gagal dalam melakukan proses itu karena serum Evolgesysv-01 yang masih terlalu keras dan belum sempurna untuk menyatu dengan sistem genetik tubuh mereka. Menyaksikan orang-orang yang mendadak diam dan menyerah, ditambah lagi melihat Lusia yang sudah terkulai dengan tubuh terapung dan layar hologram berwarna merah. Dorothy menangis sejadi-jadinya.


Wanita itu sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan. Dorothy baru saja menanggung sebuah rahasia besar yang lebih berat lainnya. Suaminya baru saja membunuh anak yang tidak lain ialah cucunya sendiri. Dorothy marah besar, dia tanpa pikir panjang langsung berlari ke arah pintu. Menarik dan menggedor pintu itu secara kasar hingga akhirnya berhasil menyita perhatian dua pria di luar. Mereka membuka pintu, namun langsung menghadangnya begitu Dorothy hendak melangkah pergi.


"MINGGIR!" teriak Dorothy penuh emosi. Menatap mereka dengan tatapan tak bersahabat. Wajahnya masih digenangi oleh air mata.


"Anda tidak boleh keluar, nyonya. Silahkan masuk kembali!"


"AKU BILANG MINGGIR!" bentak Dorothy sekali lagi.


"Jangan mempersulit tugas kami di sini." Salah satu lelaki menarik lengannya dan berusaha untuk membawa Dorothy masuk. Namun dengan sekuat tenaga dia memberontak. Berusaha untuk melawan, sampai akhirnya terjadi pertengkaran di antara mereka.



Dalam satu ayunan, wanita itu menusuk tangan pria tadi hingga dia menjerit kesakitan.


"ARGHHH!" Penjaga tadi melepaskan cengkramannya. Memegangi tangannya sendiri yang kini mulai mengeluarkan darah. Dorothy hanya diam dengan tangan yang masih menggenggam pisau bedahnya yang kini berlumuran darah. Sementara itu, lelaki yang tadi digigitnya tidak lantas tinggal diam begitu saja.


Pria itu bergegas berusaha untuk menghentikan Dorothy dari arah belakang. Menarik lengannya. Tapi Dorothy yang menyadari hal itu langsung berbalik dan mengayunkan pisau itu ke arahnya dan menusuk lelaki itu tepat di lengan bagian atasnya.


Kembali, terdengar suara teriakan dari ruangan itu. Pria yang ditusuknya mulai berjatuhan dengan darah yang mengalir membasahi lantai. Sementara fokus Dorothy kini hanya tertuju pada satu titik. Wanita itu langsung berlari ke arah pintu yang terbuka dengan tangan yang kini masih berlumuran darah, membawa pisau bedah di tangannya.


Wanita itu berlari menyusuri lorong, berharap bisa menemukan pintu yang tepat mengarah ke ruang laboratorium tadi. Dorothy menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah pintu yang diduganya merupakan pintu masuk ke ruang laboratorium tadi. Namun belum sempat Dorothy menghampiri pintu itu, dia melihat pintu itu terbuka dan beberapa orang wanita keluar dengan mendorong sebuah ranjang Operasi berisi mayat anak-anak tadi.


Dorothy berlari ke arah salah satu ranjang yang tidak lain membawa Lusia. Wanita itu langsung jatuh di sana sambil menangis menatap mayat Lusia.


...***...