
...***...
Tarakan, Kalimantan-Indonesia.
Rei melangkah keluar dari dalam bandara bersama dengan Lucy dan yang lainnya. Mereka bergerak cepat setelah melakukan check-out karena tidak ingin sampai kehilangan jejak dari Andrich dan Melinda yang telah berhasil mereka lacak.
"Eth, bagaimana perkembangannya?" tanya Lucy yang terus berjalan dengan menggendong tasnya di punggung.
Aland, Rei, Elvina dan William berjalan di sampingnya. Mereka melangkah dengan tempo yang sama.
"Aku masih bisa melacak keberadaan mereka. Mereka masih ada di sana."
"Sungguh? Syukurlah, aku lega mendengarnya," gumam Lucy sambil menghela napas lega. Setidaknya target mereka tidak bergerak lagi setelah mereka tiba di sana.
"Ya. Tapi tunggu…" Ethan di seberang sana mendadak diam tak melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa, Eth?" tanya Lucy saat merasa ada yang tidak beres dengan lelaki yang jadi rekan sementaranya itu.
"Aku menangkap sinyal dari orang yang tidak asing."
"Maksudmu?"
"Tidak bisakah kau bicara lebih jelas?" Aland yang sejak tadi diam mulai ikut bersuara.
"Dimana aku pernah menangkap sinyal ini, ya?" Ethan bergumam pelan.
Tap!
Rei mendadak menghentikan langkahnya. Hal itu spontan membuat yang lainnya ikut berhenti bersamaan dengannya yang terdiam.
"Ada apa, Rei?" tanya Elvina.
Rei tak menjawab. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan bersamaan dengan itu yang lain ikut menoleh.
Brukk!
Tanpa sebab yang jelas, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka mendadak jatuh tak sadarkan diri di lantai.
"A… ada apa ini?" Lucy dan Aland tercekat.
Elvina dan William ikut mengedarkan pandangan mereka. Semua orang di dalam sana mulai berjatuhan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Elvina mengerutkan keningnya.
"Evolver," gumamnya pelan.
Wushh…
Perlahan tapi pasti, kabut tebal bergerak menyembur dari arah belakang mereka.
Kabut itu bergerak hingga seluruh lantai yang mereka pijak tertutupi olehnya.
"Kabut tidur. Tutup hidung kalian!" teriak Rei begitu sadar dengan apa yang dilihatnya.
Kabut itu terus bergerak hingga menghampiri mereka. Rei, Lucy, Elvina, William, dan Aland bergegas menutupi hidung mereka dengan tangan supaya mereka tak bisa mencium kabut itu.
Rei, Elvina, dan William, segera memasang kuda-kuda.
Kemampuan ini adalah kemampuan dari evolver yang waktu itu kita jumpai, pikir Rei.
Maksudmu pria yang berusaha menangkap Liana dan Aland? tanya Elvina.
Ya.
Gawat, itu artinya dia mengikuti kita sampai ke sini?
Bisa disimpulkan begitu. Sepertinya dia berusaha untuk menangkap Liana dan Aland lagi.
Kita harus melindungi mereka! Tapi bagaimana caranya kita bisa melindungi Liana dan Aland sementara kita harus menutupi hidung kita?
Kita membutuhkan sesuatu untuk menutupi hidung kita. Seperti masker atau semacamnya.
Elvina dan Rei berusaha mencari sesuatu untuk menutupi hidung mereka sementara mereka berusaha melindungi Lucy dan Aland yang kini terancam bahaya.
"Aku ingat! Sinyal ini berasal dari orang yang selama ini mengejarmu!" pekik Ethan di seberang sana.
"What?" Lucy tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Dia mengikutiku hingga kemari? Bagaimana bisa? pikirnya.
Aland yang mendengar itu, segera bergerak mencari senjata yang mereka sembunyikan di balik sebuah tas khusus yang memampukan mereka lolos dari detektor logam.
Ia harus bersiap terhadap serangan apapun yang kalau-kalau datang tanpa aba-aba lebih dulu.
Brukk!
Semua kaget.
...***...