Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 121 - Kamar



...***...


"Rei? Kenapa diam saja? Ayo naik, kamarmu ada di atas," ucap Isyana yang spontan membuyarkan fokusnya. Rei mengangguk pelan sebelum kembali melangkah ia menoleh sekilas ke arah pintu ruangan yang dilihatnya.


"Yang tadi itu kamar tamu," jelas Isyana begitu mereka tiba di lantai atas dengan Rei yang berjalan dibelakangnya.


"Nah, ini adalah kamarmu." Wanita itu berdiri di depan pintu geser dengan kunci berkode di bagian kenop pintunya. "Sekarang lebih baik kau beristirahat, mama akan memanggilmu saat jam makan siang nanti."


"Baiklah," ujar Rei pelan sembari mengangguk.


"Kalau begitu mama pergi dulu." Isyana pergi meninggalkan Rei seorang diri di depan pintu kamarnya.



Sepeninggalan Isyana, Rei bergerak perlahan menggeser pintu tersebut hingga terbuka. Beruntung pintunya tidak terkunci sehingga membuatnya mudah untuk masuk.


Rei melangkah masuk. Tiba di dalam sana, ia melihat ruangan yang tampak begitu nyaman.


Ada sofa di bagian tengah kamarnya dengan televisi dan kulkas mini di dekat meja, sofa bed yang empuk dan nyaman lalu rak sepatu kecil di dekat pintu masuk. Tepat di sudut ruangan.


Rei melangkah perlahan. Ia menaruh tas backpack miliknya di atas sofa bed yang ada. Di bagian dinding lain yang berhadapan dengan dinding pintu masuk, Rei melihat ada dinding kayu.


Rei menggeser pintu tersebut hingga menampakkan bagian dalamnya. Ada ranjang tidur yang empuk, bagian kepala ranjangnya bersandar pada rak buku yang penuh dengan buku-buku dari atas sampai bawah, lalu di bagian kaki ranjangnya, Rei melihat ada meja belajar dengan beberapa buku lain yang cukup berserakan di atas sana.


Rei mengambil duduk di ranjang tidurnya. Ia terdiam di atas sana dengan pandangan matanya yang terus mengedar menatap sekelilingnya.


Nyaman. Begitulah yang ia rasakan begitu duduk di sana, kali ini. Untuk pertama kalinya, Rei merasa familiar dengan tempatnya berada. Seakan-akan dirinya ingat pernah ada di sana dan menghabiskan banyak waktunya di dalam ruangan tersebut.


Ternyata… ini kamarku dulu? Rasanya nyaman, tempatnya begitu rapi dan tertata, batin Rei.


Fokus mata Rei beralih pada buku-buku yang berada di kepala ranjang tidurnya. Ia menatap satu persatu buku yang ada di sana dan membaca judulnya.


Ada sangat banyak buku, berjejer memenuhi setiap ruangan yang ada. Dari ujung yang satu ke ujung yang lain.


"Sepertinya dulu, aku sangat suka membaca buku." Rei bangun dari tempat duduknya, ia mengambil salah satu buku yang ada dan membuka lembar demi lembar kertasnya. Setelah melihat-lihat buku yang ada di rak, Rei beralih menghampiri meja belajarnya yang berada di sudut kaki ranjang tidurnya.


Rei menghampiri meja tersebut dan melihat ada banyak buku lain yang berserakan di sana. Tak tersentuh, namun terlihat bersih. Hanya posisinya saja yang berserakan, tapi tidak ada debu sama sekali yang bertebaran di sana.


Rei duduk di kursi yang ada di sana. Ia meraih satu buku yang berserakan dihadapannya dan mulai membereskannya perlahan, menumpuknya menjadi satu hingga benar-benar terlihat rapi. Ia kemudian menaruh buku tersebut disudut.


...***...