Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 295 - Bereskan semua!



...***...


"Terima kasih untuk kartu ATM-nya. Saldomu sudah aku tambahkan, kau bisa mengeceknya sendiri nanti." Derek menyodorkan kartu ATM-nya dan menaruhnya di dashboard mobil.


"Sekarang kita kemana?" tanya Pricilla yang berusaha untuk tenang walau ia masih shock dengan segala yang dilihatnya.


"Tolong antarkan aku ke sebuah penginapan yang sederhana dan tidak terlalu banyak orang yang tahu. Aku harus berada di tempat yang aman hingga semua penelitianku selesai."


"Baiklah." Pricilla mengikuti keinginannya. Ia segera mengantarkan Derek menuju tempat yang aman agar lelaki itu bisa bersembunyi dari kejaran para evolver penjaga.



...*...


"Jadi selama ini, dia berusaha mencari cara agar bisa melawan serum Evolgesysv-03 milik profesor?" Pria itu berujar sembari menatap ke sekeliling.


"Betul, tuan." Ron menjawab dengan kepala tertunduk penuh hormat.


"Menarik." Ia menarik sebelah sudut bibirnya membentuk smirk.


"Aku sudah meminta anak buahku yang lain untuk menghubungi Joe dan menanyainya tentang hal ini. Rencananya kami akan bertemu di markas untuk membahas semua ini, selain itu kami juga akan mencaritahu siapa saja yang terlibat dalam proyek yang dia kerjakan."


"Bagus. Aku suka dengan pekerjaan kalian yang selalu bisa aku andalkan. Cari tahu keberadaannya, setelah itu beritahu padaku dimana keberadaannya. Kalau para evolver penjaga saja bisa dilawan olehnya, maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk membuatnya tunduk!"


"Baik, di mengerti, tuan."


"Sekarang bereskan semua ini dan bawa kembali ke markas. Profesor juga pasti tidak akan tinggal diam melihat hasil karyanya berusaha ditandingi orang lain."


...*...


"Arghh!" Rei membuka kedua matanya. Lagi-lagi mimpi itu menghampiri dirinya, walaupun sudah sering memimpikan hal yang sama. Namun faktanya Rei masih tidak bisa terbiasa dengan mimpi yang ia alami tentang ruangan dan pria aneh dengan jarum suntik.


Ia menghela napas panjang berusaha menetralisir degup jantungnya yang tak beraturan.


"Kau baik-baik saja, tuan?" Louis memastikan tuannya baik-baik saja. Semalaman, Rei meminta Louis untuk menjaganya. Ia hanya takut kalau mimpi itu kembali hadir ketika ia terbangun, dan ternyata memang benar seperti dugaannya.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah bertanya, dan terima kasih karena sudah menjagaku semalaman. Berkat kehadiranmu, setidaknya aku menjadi lebih baik daripada harus menghadapi mimpi itu sendiri."


"Bukan masalah. Memang tugasku untuk menjaga tuan dan memastikan tuan baik-baik saja, serta membuat tuan merasa lebih baik." Louis tersenyum simpul.


Fokus keduanya beralih saat suara jam menginterupsi seisi ruangan. "Sepertinya aku harus bersiap untuk ke sekolah." Rei beranjak dari tempat duduknya.


"Ya. Silahkan bersiap, aku akan menunggu tuan hingga selesai."


"Baik."


Rei pergi menuju kamar mandinya, ia hendak mempersilahkan diri sebelum akhirnya pergi ke sekolah seperti minggu-minggu sebelumnya.


Hari ini Rei tidak sabar untuk tiba di sekolah karena rasa rindunya pada Lusia sudah tak terbendung lagi.


Selama kurang lebih tiga hari tidak bisa berhubungan dengan Lusia karena ponselnya hilang dan Rei tak dapat mengingat nomor siapapun, akhirnya hari ini ia akan bertemu dengan gadis yang menjadi pujaan hatinya itu. Rei tidak sabar.


...***...