
...***...
Semua orang terdiam. Atmosfer terasa begitu dingin, lebih dingin daripada biasanya.
Rei tak ingin memperhatikan orang lain dan lebih memilih untuk fokus pada makanannya. Samuel menatap kearahnya dengan tatapan tak bersahabat, ia masih kesal karena Rei yang tak mau berbicara jujur.
Sementara itu, Sandy dan Isyana hanya diam dan menatap Rei lekat. Mereka tampak kecewa karena Rei yang masih memilih untuk diam tanpa ingin berbicara yang sejujurnya.
Tukk!
Rei menaruh alat makannya di atas meja. Ia bangun dari tempat duduknya tanpa mengatakan sepatah katapun, ia masih sangat kecewa dengan apa yang mereka tuduhkan padanya.
"Ingat! Mulai besok kau harus bangun pagi-pagi, dan berangkat sekolah!" Sandy mengingatkan dengan suara dingin. Berbicara tanpa menoleh sedikitpun padanya.
Rei tak menjawab dan memilih untuk melanjutkan langkahnya pergi dari ruang makan.
...*...
Tiba di dalam kamarnya, Rei terdiam di sofa bed yang ada. Ia bersandar, duduk terhenyak dengan kepala menengadah menatap langit-langit.
Kalau aku memang anak dari kedua orangtuaku, lalu kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa tentang masa laluku? Apa yang sebenarnya terjadi denganku yang menyebabkan aku kehilangan ingatanku? Rei membatin. Otaknya kini mulai dipenuhi oleh berbagai pertanyaan mengenai alasan kenapa dirinya bisa sampai tidak ingat apa-apa mengenai masa lalunya.
Rei menghela napasnya pelan. Berulang kali dirinya berusaha mengingat, tapi berulang kali juga hasilnya nihil. Ia tak dapat menemukan sedikit pun mengenai ingatannya di masa lalu.
Tunggu, mungkin aku bisa mencari cara lain untuk membuatku ingat akan masa laluku. Rei menoleh ke arah pintu yang menutupi ranjang tidurnya.
Rei bangun dan membuka pintu tersebut, ia segera menghampiri meja yang terletak di bawah ranjang tidurnya.
"Mungkin saja ada sesuatu di sini yang bisa membuatku ingat akan masa laluku." Rei mengobrak-abrik meja belajar miliknya, ia mencari segala sesuatu yang dapat dijadikan sebagai petunjuk.
Rei mengeluarkan segala buku yang ada di dalamnya. Setelah ditaruhnya ke atas meja, Rei mulai mengecek semuanya secara perlahan. Satu persatu, sampai fokusnya di sita oleh beberapa buku bersampul cokelat, di dalam buku itu terdapat catatan dengan tanggal yang tertera pada bagian atasnya.
"Ini… apakah jangan-jangan ini adalah buku harianku di masa lalu? Tapi apakah mungkin aku menulis hal semacam itu?" Rei menaikkan sebelah alisnya bingung. Ada lebih dari lima buku yang ditemukannya, dan setiap lembarnya terdapat tanggal, hari, dan angka yang diperkirakan menunjukkan jam dibuatnya catatan tersebut.
Rei memperhatikan setiap goresan yang tertulis di sana. Dalam satu buku, terdapat beberapa tulisan berbeda. Ada yang seluruh isinya ditulis dengan huruf Hangeul atau tulisan Korea, dan satu huruf lain dengan huruf Hiragana dan Katakana, atau dua unsur huruf Jepang.
Rei memperhatikan setiap kata yang tertulis di sana. Entah kenapa, tapi ia merasa seakan mengerti setiap goresan per hurufnya, namun ia tidak mengerti setelah mencoba membacanya karena walaupun ditulis dengan huruf Korea dan Jepang, tapi bahasa yang digunakan justru adalah bahasa yang berbeda.
"Ini… seperti memang benar-benar buku harian yang aku tulis."
...***...