
...***...
"Kemana saja kau selama ini? Aku berusaha menghubungimu tapi kenapa kau tidak bisa aku hubungi juga. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa keadaan jadi rumit seperti ini? Ini tidak seperti yang telah kita rencanakan. Bukankah sejak awal aku bilang untuk menahan rencana kalian dulu?" ujar Cato dengan nada kesal. Berhari-hari dia harus menunggu kabar dari Martin yang mendadak sulit dihubungi. Ponselnya mati, nomornya tidak aktif, bahkan Cato sampai tidak bisa menemukannya di laboratorium. Lelaki itu seolah ikut menghilang. Lenyap di telan bumi bagai kabar para anak-anak yang sekarang sedang beredar di jagat dunia. Setiap hari Cato dihantui rasa takut, dan cemas. Terlebih setelah dia mendengar ada lebih banyak anak yang menghilang setiap harinya.
Ini semua sungguh di luar dari kesepakatan yang telah mereka buat sebelumnya.
"Tenanglah, jangan kecewa begitu. Aku melakukan ini karena bagaimanapun kita harus membuat keadaan senatural mungkin, kan?" Martin bicara dengan santainya. Lelaki itu bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi di sekeliling mereka. Bersikap seakan apa yang sedang dicemaskan Cato bukanlah masalah besar yang memang harus dicemaskan.
"Apa maksudmu? Justru dengan tindakanmu ini, semuanya jadi tidak natural bodoh! Memangnya bagaimana mungkin orang tidak sadar kalau jumlah anak yang hilang bahkan sampai merambah ke seluruh dunia? Bukankah itu justru membuat kasus ini menjadi perhatian dunia?!"
"Tenanglah. Aku melakukannya justru dengan niat agar keluargamu beranggapan dia hilang karena menjadi korban sama seperti anak-anak yang lain. Lagipula semuanya terkendali. Tidak akan ada yang tahu dimana kita menyembunyikan anak-anak itu."
"Apa maksudmu? Memangnya kau menyembunyikan mereka di mana? Dan kenapa kalian tidak bisa aku temui sama sekali? Aku berulang kali mencari kalian ke laboratorium, dan kalian tidak ada di sana. Jangan bilang kalau kalian melarikan diri begitu saja setelah semua yang aku lakukan?"
"Jangan cepat menyimpulkan! Aku dan saudaraku sibuk mempersiapkan tempat untuk anak-anak itu. Lagipula kalau aku dan Miles menghubungimu dan kau ikut menghilang, bukankah itu malah akan membuat keluargamu curiga?"
Cato terdiam membenarkan ucapan Martin. Ia memang kesal karena lelaki itu mendadak hilang begitu saja, namun apa yang diucapkannya ada benarnya juga. Kalau Martin memberitahu dan mengajaknya pergi di saat-saat seperti ini, maka bisa jadi keluarganya akan curiga.
"Aku akan memberitahumu dimana kita menyekap anak-anak itu. Besok pagi datanglah ke lab, aku akan menunggumu di sana."
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Bagaimana kalau kau justru menipuku dan membiarkanku begitu saja seperti beberapa hari terakhir?"
"Tidak mungkin aku dan Miles melakukan itu. Kami sangat membutuhkanmu di sini. Percayalah pada kami. Pokoknya datang saja, okay?"
"Baiklah..."
"Oh, satu lagi. Aku mengirimimu email berisi data anak-anak yang akan menjalani proses pertama. Bisakah kau cek dan pastikan berapa kadar dosis yang tepat agar operasinya berhasil?"
"Email? Aku tidak menerimanya."
"Benarkah? Aku baru saja mengirimnya beberapa menit yang lalu. Tepat ketika aku meneleponmu, dan aku lihat di sini email yang kau terima sudah kau buka."
"APA?" Cato spontan membelalakkan mata begitu mendengar kalimat Martin yang terakhir.
...***...