
...***...
Brukk!
Miles dan Martin menabrak dinding yang ada. Tubuh mereka meringsek masuk hingga membuat dinding itu retak. Nyaris bolong.
Rei menatap mereka dengan wajah marah. Sementara itu Miles dan Martin memberontak, berusaha membebaskan diri.
Rei mencekiknya dengan sekuat tenaga sampai kedua lelaki itu tak bisa bernapas.
"Arghh…" Arleta meringis menahan sakit. Ia juga sempat terhempas jauh ketika Rei mengibaskan tangannya dan melemparkannya semua Evolab yang ada dihadapannya.
"Profesor…" Arleta menatap ke segala arah, mencari keberadaan kedua lelaki yang menjadi bosnya itu. Begitu menemukan mereka, ia begitu terkejut melihat keduanya sudah berada dalam cengkraman Rei.
"Profesor! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?"
"Kalau aku diam saja, dan membiarkan R31 terus mencekik mereka, maka mereka akan mati."
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi!"
Arleta segera bangkit dengan seluruh tenaganya. Ia melayang dengan kemampuannya dan menyerang Rei dari arah belakang.
Saat tinjunya hampir mengenai Rei, entah kenapa tiba-tiba Arleta merasakan tubuhnya seolah menabrak sesuatu.
Arleta terpental tanpa sebab. Membuatnya kembali terpelanting jatuh di lantai.
Wanita itu berusaha menahan rasa sakit yang dirasakannya. Ia kembali mencoba menyerang Rei, melayangkan setiap tendangan dan pukulan pada lelaki itu. Tapi ujung-ujungnya tetap saja, Arleta terpelanting hingga jatuh.
"Arghh…" Arleta meringis menahan sakit.
"Sial. Apa yang terjadi? Kenapa aku tidak bisa menyerangnya? Setiap kali aku berusaha menyerang R31, tubuhku selalu terpental. Seolah-olah dia punya semacam perisai tidak terlihat yang melindungi dirinya."
Arleta berusaha mencari ide guna membantu kedua profesor yang kini masih Rei tahan.
Keduanya masih terus memberontak, berusaha untuk membebaskan diri.
Tidak ada waktu untuk berpikir! Arleta memejamkan kedua matanya. Memusatkan seluruh kekuatannya hingga membuat seluruh benda di sekelilingnya melayang di udara. Wanita itu menggerakkan tangannya yang dalam sekejap membuat seluruh benda yang tadi melayang bergerak menuju arah Rei.
"Akh—" Miles dan Martin semakin kesulitan untuk bernapas. Rei semakin mendorong tubuh mereka.
Rei mendadak berhenti saat ia merasakan Arleta tengah menyerangnya. Ia mengerjapkan matanya hingga membuat irisnya kembali berubah.
Rei melirik ke arah belakang lewat ekor matanya tanpa menoleh. Hanya dalam satu kali gerakan saja, seluruh benda yang tadinya bergerak ke arahnya langsung beralih jalur pada Arleta.
"Huh?!" Arleta membelalakkan kedua matanya saat ia sadar barang-barang itu bergerak menuju arahnya. Wanita itu spontan menggunakan kemampuannya, melayang di udara dan bergegas melarikan diri sebisa mungkin.
"Sial! Kenapa semua barang itu malah jadi menyerang ku?" Arleta mempercepat pergerakannya.
Berulang kali wanita itu berusaha untuk kembali mengendalikan semua barang-barangnya. Namun sial, usahanya sama sekali tidak berhasil. Benda itu terus saja mengejarnya.
Sementara itu, Miles terus berusaha memberontak. Sebelah tangannya terus berjuang meraih saku dalam jasnya. Begitu berhasil, ia segera menarik jarum berisi cairan obat bius yang selalu ia persiapkan.
Jleb!
Lelaki itu menancapkan benda tersebut di tangan Rei. Rei membelalakkan mata, begitu tersadar, ia melihat jarum suntik sudah tertusuk di sebelah tangannya dengan isi cairan obat bius yang entah kenapa tampak berkilauan.
"Arghh!!" Rei berteriak kencang. Spontan ia melepaskan Miles dan Martin.
Ia bergerak mundur segera berusaha menarik jarum yang tertusuk di tangannya.
...***...