
...***...
Jadi begitu... Selama ini di matanya, aku adalah orang yang seburuk itu? Yang bisa saja mencelakai putri dan keluarganya, sampai-sampai dia menanyakan bagaimana keadaan Meredith? Aku tidak menyangka dia akan berpikir begitu padaku. Padahal selama ini aku sudah berusaha keras untuk melupakan masalahku dengannya walaupun itu sangat berat. Sekarang aku jadi tahu bagaimana pandangannya terhadapku, dan itu benar-benar membuatku marah! Lihat saja, kalau itu yang kau pikirkan tentangku, maka akan aku akan menjadikan itu sebagai kenyataan! Cato mengepalkan kedua tangannya erat. Ia benar-benar kesal karena ternyata Claire menilainya sebagai orang yang buruk.
...*...
"Apa yang sedang kau lakukan?" Miles menghampiri kembarannya itu dan duduk tepat di salah satu kursi kosong yang berada tepat di sampingnya. Tanpa mengalihkan pandangannya, Martin terus fokus pada layar hologram yang ada dihadapannya.
"Aku sedang melakukan uji coba pada alat yang baru saja aku ciptakan."
"Alat apa ini?" Miles menatap layar yang tampak dihadapannya. Terdapat sederet angka dan kode komputer yang kemudian dia ubah kodenya. Tak lama, layar memuat tampil di hadapannya.
"Ini penemuan terbaruku. Dengan alat ini, kita bisa melacak orang-orang yang memiliki masa depan cerah. Kita bisa tahu siapa saja yang akan sukses dan berkuasa di masa depan, masa lalu, dan masa sekarang."
"Untuk apa kau menciptakan alat seperti ini?"
"Tentu saja untuk proyek kita. Untuk bisa mengendalikan semua pasukan kita, maka kita harus memulai dari yang paling kuat dan berkuasa. Dengan begitu akan lebih mudah untuk kita mengatur yang berada di bawahnya."
"Aku punya firasat baik tentang ini, jadi lebih baik kau tetap fokus pada pekerjaanmu. Cepat atau lambat, aku yakin Cato akan berubah pikiran," ujar Martin. Pria itu tampak begitu yakin dengan kalimatnya, seolah-olah dia bisa meramalkan masa depan dan mengetahui apa yang akan terjadi dalam waktu dekat.
"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" tanya Miles sambil menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Karena aku sendiri yang akan memastikannya. Kali ini mungkin dia menolak. Tapi bukan berarti aku akan menyerah begitu saja. Aku akan terus memintanya untuk bergabung dengan kita, dan aku yakin aku pasti berhasil!" jawab Martin. Perhatian lelaki itu mendadak beralih pada suara telepon yang di dengarnya. Martin yang sadar ponsel genggamnya berbunyi lantas segera mengecek panggilan yang baru saja masuk.
"Dari siapa?" tanya Miles saat sadar saudara kembarnya itu diam sejenak sambil memperhatikan layar ponselnya. Tak lama, dia menunjukkan layar ponselnya pada Miles. Di latarnya, Miles membaca nama Cato tertera.
"Aku akan mengangkatnya dulu," kata Martin yang kemudian menekan tombol keypad pada ponselnya. Dalam satu tekan, sambungan telepon mereka terhubung dan Martin bisa mendengar suara Cato dari seberang sana.
"Halo?"
"Aku akan ikut!" Tanpa basa-basi dan terkesan spontan, kalimat itu terlontar dari mulut lelaki di seberang sana. Martin yang mendengarnya tersentak kaget. Dia bahkan sampai diam sesaat sambil berusaha mencerna kalimat yang baru saja terlontar.
...***...