Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 286 - Menyelinap



...***...


Pria itu terus segera melintas setelah memastikan keadaan jalanan aman. Ia berlari sekuat tenaganya.


Beberapa orang lelaki di belakang sampai kesulitan untuk mengejarnya karena jalan raya yang cukup ramai.


Tak lama beberapa lelaki itu kembali mengejarnya.


Pria itu mempercepat langkah kakinya. Ia berusaha mencari tempat yang aman untuknya bersembunyi dari kejaran orang-orang itu. Sialnya entah kenapa, ia sama sekali tidak dapat menemukan tempat yang aman.


Ia melangkah kembali melewati jalanan yang kumuh penuh dengan bak sampah besar yang berjejer dari sisi kiri dan kanannya.


Jalanan yang sempit sama sekali tak menjadi masalah untuk pelariannya, baginya semakin sempit dan sulit jalan yang ia lalui, maka semakin susah untuk orang-orang di belakangnya mengejar dirinya.


Langkahnya tanpa sadar membawanya hingga ke sebuah tempat terpencil.


Ia menghiraukan seluruh keadaan dan terus berlari hingga tiba di hutan.


Beberapa orang pria di belakangnya kembali menyerang dengan kemampuannya.


Apa yang harus aku lakukan? Kemana aku harus berlari agar aku bisa bebas dari kejaran mereka? Pertanyaan itu kembali muncul dalam benaknya. Rasa lelah sudah menguasai dirinya, kakinya benar-benar terasa pegal dan langkahnya mulai terasa berat menandakan tenaganya hanya tersisa sedikit lagi. Namun ia masih harus berlari agar orang-orang di belakang tak bisa menangkapnya.


Brukk!


Tubuhnya terkulai jatuh di tanah yang tergenang air. Tubuhnya yang basah seketika berlumuran lumpur.



Suara langkah kaki yang di dengarnya membuat ia tidak bisa tinggal diam. Lelaki itu secepatnya bangun dari posisi jatuhnya, dan segera berlari walau harus tergopoh-gopoh.


Langkahnya mendadak terhenti ketika ia menemukan sebuah bangunan yang terbuat dari kayu. Sebuah rumah yang sepertinya masih di tempati oleh entah siapa.


Lelaki itu berlari menuju rumah itu untuk bersembunyi. Beruntung pintunya tak terkunci hingga membuatnya dengan mudah masuk ke dalam sana.


Pria itu terdiam, ia berjalan mengendap-endap bagaikan maling yang hendak mencuri di rumah itu.


Rumahnya memang terbuat dari kayu, namun terasa nyaman untuk di tinggali.


"Dimana dia?"


"Aku yakin dia di sekitar sini!"


"Cari!"


"Mungkin dia di sana!"


Teriakan orang-orang dari luar membuat pria itu semakin was-was.


"Aku harus bersembunyi agar mereka tidak menemukanku," gumamnya dengan suara gemetar.


Lelaki itu tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam ruangan yang dilihatnya dan menutup pintu itu rapat-rapat.


Di sisi lain, suara pintu yang di tutup rapat membuat fokus lelaki berpakaian serba putih di sana beralih.


Ia yang sedang menyempurnakan penemuannya mendadak menoleh ke arah datangnya suara dan mendapati seorang lelaki dengan tubuh basah kuyup yang menyelinap masuk ke dalam rumahnya.


"Kau siapa?" Kalimat itu membuat pria itu tersentak dan spontan berbalik arah menghadap pada Derek.


"Apa yang kau lakukan di rumahku?!" tukas Derek.


"A… aku bukan pencuri, aku kemari hanya untuk mencari tempat bersembunyi."


"Bersembunyi?" Derek menaikkan sebelah alisnya.


Brakk!


Suara pintu yang di buka secara paksa membuat perhatian mereka tersita.


"Mereka di sini." Pria itu gemetar, ia bersandar ke arah pintu dibelakangnya.


...***...